"Ahlan wa sahlan on Hanyfa's Blog...!"
| More

Pusara Penyesalan

.

(picture from images)



Matanya merah. Tumpah ruah segala kesedihannya dan semua penyesalan yang begitu besar atas kelakuannya sendiri. Ingin ia putar kembali waktu dan memperbaiki segala kesalahan yang ia buat saat itu. Ingin ia kembali dan merubah prilakunya seperti yang diharapkan ibunya. Namun semuanya telah terjadi, terlambat sudah penyesalan yang ia rasakan. Segalanya telah membuat hancur hidupnya. Ia kehilangan orang yang dicintainya. Ia lunglai.

Segalanya bermula ketika ia memulai pendidikannya di SMA. Dulu ketika ia masih SMP ia termasuk siswa yang biasa-biasa saja. Tidak terlalu menonjol dalam pelajaran, namun juga tidak terlalu bodoh. Hanya biasa-biasa saja. Tak pernah ia mendapatkan masalah yang berhubungan dengan perilakunya. Ia dikenal pendiam dan penurut dan tak banyak tingkah. Namun semuanya berubah ketika ia masuk SMA. Pergaulannya yang tidak karuan membuatnya menjadi urakan. Ia membentuk geng, menjadi sering bolos, selalu mencontek, dan senang sekali dengan tawuran. Ntah bagaimana mulanya, tapi ia merasa bangga dan puas jika menang saat tawuran.

Sudah beberapa kali orangtuanya dipanggil ke sekolah karena ulahnya yang semakin parah. Setiap kali ia dipanggil, setiap itu pula hati sang ibu sakit karena ulah anak sulungnya. Tak terbayang perihnya hati sang ibu yang lelah berjualan keliling, menggantikan peran sang ayah yang telah lama meninggal, menjajakan perabotan sederhana, berjalan puluhan kilometer untuk membiayai sekolah anaknya, namun anak yang ia pertaruhkan itu justru berbuat keonaran dan menyia-nyiakan sekolahnya.



“Bu, maaf sebelumnya karena harus memanggil ibu kesini. Ada beberapa hal yang harus kami sampaikan sebagai guru tentang kelakuan anak ibu,” ucap Bu Mila, walikelasnya.
“Ada apa lagi bu dengan Bayu?” tanya sang ibu.
“Sebenarnya kami tidak enak karena telah sering memanggil ibu kemari. Semakin lama Bayu semakin sulit kami atur, bu. Dia sudah sering sekali kepergok mencontek, sering pula nongkrong bersama temannya di kantin ketika jam pelajaran, sudah tidak terhitung berapa kali ia membolos, dan akhir-akhir ini ia juga sering terlibat tawuran,” Bu Mila menjelaskan dengan hati-hati. Ia kemudian melanjutkan,”Kami sudah berusaha menasehatinya berkali-kali, namun sepertinya nasehat-nasehat kami itu hanya ia anggap sebagai angin lalu saja. Jujur saja bu, kami sudah tidak sanggup lagi mengatasi anak ibu, dan sepertinya kami harus mengembalikan anak ibu kepada ibu.”
Mendengar itu, mata sang ibu mendung. Ada butiran gerimis yang membasahi ujung matanya. Perlahan, ia mulai terisak.
“Bu..., ibu tahu sendiri pekerjaan saya. Sa… saya hanya seorang penjual keliling. Sudah banyak biaya yang saya keluarkan untuk Bayu. Jika ibu mengeluarkan Bayu dari sekolah ini, apa arti kerja keras saya selama ini, bu? Hiks...” Ibu Bayu terisak.
“Saya tahu bu, tapi sudah sering kami memberikan kesempatan untuk Bayu, tapi nyatanya tidak juga dia berubah.”
“Saya mohon dengan sangat bu, berikanlah kesempatan lagi untuk Bayu. Sa… saya akan berusaha merubah sikapnya bu, saya tidak ingin perjuangan saya sia-sia, bu. Saya mo.. mohon… Oh...” ibu Bayu semakin terisak.
“Sudah bu, tidak usah menangis. Saya akan coba membicarakannya dengan guru-guru yang lain. Mudah-mudahan Bayu masih bisa diusahakan untuk tetap sekolah disini.”
“Ma.. makasih bu. Terimakasih banyak…” ucap ibu Bayu yang kemudian pamit pulang.
*****
“Bayu, kamu itu anak pertama. Anak yang seharusnya bisa jadi andalan ibu nantinya. Ibu sudah berusaha banting tulang membiayai sekolah kamu,nak. Tapi kenapa kamu balas pe-ngorbanan nenek tua ini dengan menyiakan sekolahmu? Oh… kamu membuat ibu sakit, Bayu…” ucap sang ibu dengan linangan air mata menasehati anaknya.
“Maafin Bayu, bu.” jawabnya singkat, ia terus menunduk. Tak berani ia melihat wajah ibunya.
“Sudah berapa kali kamu minta maaf sama ibu? Tiap kali kamu minta maaf, selalu kamu ulangi lagi kelakuanmu yang seperti berandal itu. Apa kamu mau, ibumu ini mati karena nggak kuat lagi mikirin kelakuan kamu?” ucap sang ibu dengan nada lebih tinggi.
“Bu, jangan ngomong gitu, nggak mungkin Bayu mau ibu mati gara-gara Bayu. Bayu sayang bu sama ibu. Bayu minta maaf sudah menyusahkan ibu. Bayu janji, Bayu nggak akan nakal lagi, dan Bayu akan sekolah dengan  sungguh-sungguh,” ucapnya kemudian.
 “Ibu tahu, kamu itu sebenarnya anak baik Bayu, tapi teman kamu yang membuat kamu jadi seperti ini. jauhi teman-teman yang membawa dampak buruk buat kamu kalau kamu benar-benar mau berubah,”nasehat sang ibu lagi.
“Iya bu, Bayu akan berusaha. Bayu janji.”
Ibunya hanya  bisa diam menghentikan laju air matanya dan berharap anaknya akan berubah.
*****
Perubahan mulai terlihat pada diri Bayu. Tangisan ibunya beberapa malam yang lalu tak kuat ia hilangkan dari fikirannya. Dan itulah yang membuatnya benar-benar bertekad untuk berubah. Ia tidak ingin menyakiti hati ibunya yang telah melahirkannya. Namun teman-temannya masih saja sering mengajaknya melakukan kenakalan dan sering memanas-manasi dirinya. Seminggu, dua minggu, hingga satu bulan ia masih bisa menahan godaan yang diberikan teman-temannya. Namun lama kelamaan, lupalah ia dengan janji kepada ibunya dan mulai bertingkah lagi disekolah.

“Bay, kita ditantang!” ucap Joko, teman satu gengnya disuatu hari.
“Ha?! Siapa yang berani nantangin kita? Sok banget mereka!” jawab Bayu penuh amarah.
“Anak-anak SMA 98, Bay. Mereka bilang, SMA kita banci, cuma bisa ngumpet di ketek emaknya.” Tambah Joko.
“Kurang ajar! Beraninya mereka bilang kayak begitu. Ini nggak bisa didiemin!” Bayu semakin bernafsu.
“Sikat aja, Bay. Mereka jual, kita beli!” ucap yang lain mengompori.
“Liat aja, mereka bakal nyesel ngomongin kita banci. Pokoknya, kalian semua siapin senjata masing-masing. Kalau perlu, bawa arit ama golok. Biar abis tu mereka,” komando Bayu. Ia benar-benar tak ingat lagi janji pada ibunya.
“Siap!”, “Beres!”, “Bisa gua atur,” jawab mereka masing-masing.

Gerombolan siswa dengan jumlah sekitar 10 orang itu mencari massa. Mereka hasut kawan-kawannya yang mereka anggap bisa di manfaatkan. Nafsu dan amarah yang mengontrol fikiran mereka telah membuat mereka tak mampu menggunakan akal sehat. Banyak yang berpartisipasi tanpa tahu apa penyebab utama mereka melakukan itu, yang ada dipikiran mereka hanya satu, ‘hancurkan SMA yang telah melecehkan kita!’.

Dipasar yang berada diantara kedua sekolah, mereka bertemu, dengan senjata masing-masing dan ego masing-masing mereka berhadapan. Wajah-wajah garang dan tatapan sinis terlihat dari masing-masing pihak. Tanpa banyak ba bi bu, seperti telah mengetahui fikiran masing-masing, dikumandangkanlah satu komando, “Serbuuuuuu………….!!!”

Pertumpahan darah pun terjadi. Tonjokan, pukulan, tendangan, sabitan, tak bisa ditahan lagi. Mereka semua kalap, dilahap api kemarahan yang tak jelas. Kemarahan mereka tak terbendung, mereka hancurkan pula semua yang ada disekitar mereka. Gerobak buah, pedagang kaki lima, semua terkena imbas dari kelakuan mereka. Darah bercecer dimana-mana. Banyak yang jatuh dan terluka parah, banyak pula warga yang tak tahu apa-apa menjadi korban. Namun Bayu masih gagah, meluluhlantakan lawan tarungnya. Garang, dan tanpa ampun. Matanya liar, mencari mangsa lainnya. Dia pukuli dan habisi setiap orang yang masih bertahan. Ia benar-benar seperti kemasukan setan. Tak ia hiraukan sekelilingnya, hingga ada seorang temannya berteriak memanggil dirinya,”Bayu! Lihat ini!”

Ia palingkan wajahnya ke arah datangnya suara. Tiba-tiba ia terdiam. Amarahnya langsung sirna ketika ia melihat sesosok wanita tua tergeletak tak berdaya yang sepertinya tak asing baginya. Jantungnya serasa copot dan badannya terasa lunglai. Air matanya mengalir deras, balok kayu yang ada dalam genggamannya terlepas dari tangannya. Seketika itu pula ia berteriak amat keras, “Ibuuu…………!!!”

Berlari ia ke arah wanita itu, ia dekap erat sosok wanita yang telah melahirkannya dan berjuang demi dirinya. Ia rasakan detak jantungnya lemah. Ia peluk erat sang ibu, sambil tak henti memanggil-manggil namanya. Air matanya deras menetes dari pipinya. Dadanya sesak, tubuhnya gemetaran, hatinya amat sangat hancur, terus menerus ia panggil ibunya.
“Ibu…! ibu…! ibu bangun bu! Ibu!!!” Ia maki semua orang disana, meski mereka masih sibuk dengan perkelahian mereka.
“Kalian semua bajingan! Keparat! Kurang ajar! Kalian apakan ibuku ha?!! Ibu… maafin Bayu bu… ibu bangun bu! Ibu…….!!” Teriakannya tak membuat mata sang ibu terbuka. Terlihat ada luka dikepala sang ibu. Luka seperti terbentur benda tumpul. Darahnya tak henti-hentinya keluar dari kepala sang ibu. Ia tak tahu harus bagaimana. Ia bingung. Perlahan tak terasa lagi detak jantung sang ibu. Membuat Bayu semakin kacau. Terus ia dekap ibunya erat, semakin deras air mata membanjiri pipinya. Ia takut, ia takut kehilangan ibunya.
“Ibu…”lirihnya lagi dengan isak yang semakin keras. Ia tak sanggup lagi melihat sekitarnya. Yang ia bayangkan hanya ibunya dan semua dosa yang ia lakukan kepadanya.
“Ibu, maafkan aku bu, maafkan aku yang tak bisa memegang janjiku kepadamu, maafkan aku yang belum bisa membahagiakanmu, maafkan aku yang terus menyusahkanmu, maafkan aku yang menyia-nyiakan kepercayaanmu, maafkan aku, maafkan anakmu…” lirihnya pelan.

Tak lama polisi datang dan membuat mereka kalang kabut. Semua berlari tunggang langgang. Namun Bayu tak bergeming, terus mendekap ibunya yang amat ia sayangi itu. Polisi pun membawa mereka pergi
*****
Di depan pusara itu, ia menangis. Menyesal ia karena telah mengabaikan kepercayaan ibunya. Ia sadar, apa yang terjadi padanya dan pada ibunya ini adalah akibat perbuatannya sendiri. Mulai hari itu ia bertekad, menjadi manusia yang bertanggung jawab, ia akan berusaha melanjutkan sekolahnya dan sekolah kedua  adiknya. Ia tidak akan menyia-nyiakan sekolahnya, akan benar-benar menyelesaikan sekolahnya dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya seperti yang diharapkan ibunya. Semangatnya membara, dengan tekad yang kuat ia berjanji membahagiakan ibunya di alam sana. Menjadi anak yang mampu diandalkan, dan meraih kesuksesan dunia akhirat. (AKQ)

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

So??
Apa pendapat Anda?

 

FEEDJIT Live Traffic Feed

{Hanyfa} is proudly powered by Blogger.com | Template by Agus Ramadhani | o-om.com