"Ahlan wa sahlan on Hanyfa's Blog...!"
| More

Dila...

.

Dila, itulah namanya. Gadis ROHIS berjilbab satu ini cukup dikenal di sekolahnya. Bukan karena kecantikan, kekayaan, atau yang lainnya, namun ternyata ia terkenal karena mulutnya. Ha? Mulut? Emang kenapa tu mulutnya? Apa segitu seksinya sampai-sampai dia terkenal karena mulutnya? Ternyata itu pun salah, gadis satu ini terkenal karena mulutnya yang tidak bisa mengerem kata-kata. Telah banyak orang yang sakit hati dan jengkel dengannya. Sudah banyak orang yang sedih karena terbongkar rahasianya, dan semua itu karena Dila.


Sebenarnya, ia tidak bermaksud demikian. Ia tidak pernah bermaksud menyakiti perasaan orang lain, ia tidak pernah bermaksud membeberkan rahasia kepada orang lain. Ia pun terkadang merasa sedih dan bersalah karena keteledorannya, karena ia tidak bisa menjaga lisannya, sudah banyak usaha yang ia lakukan untuk hati-hati dalam berbicara,namun ada saja yang membuat dia keceplosan mengatakan hal yang mestinya tidak ia ucapkan.


Suatu ketika, di siang hari yang begitu terik, Dila dan sahabat karibnya, Rara, berjalan bersama menuju kantin sekolah. Tak ketinggalan obrolan-obrolan anak remaja mengikuti mereka. Banyak yang dibicarakan, dari urusan kelas, sampai satu sekolahan mereka bicarakan,
“Akhir-akhir ini kayaknya sekolah kita tambah aneh aja ya?” kata Dila
“Maksudnya?”
“Ya perhatiin aja deh, siswa-siswanya, tambah ancur. Ada yang pake-pake make up berlebihan, ada yang rambutnya di model gak karuan, ada yang jilbaban tapi lehernya keliatan, aneh-aneh lah pokoknya. Apalagi si Radit tu, udah tau item tapi rambutnya pake di merah-merahin segala. Sok kebule-bulean, apa gak pernah ngaca ya anak itu, sampai-sampai dia gak tahu seberapa anehnya dia dengan rambut jigrak merahnya itu. Aneh tau gak sih..”
“Hush! Kamu ini gimana si Dil, terserah mereka dong mau gimana aja, itu kan hak mereka yang punya badan, punya muka, punya rambut,kenapa kamu mesti sibuk gitu?”
“Bukannya sibuk Ra, tapi kan…” Dila menghentikan kalimatnya, matanya tercengang melihat Radit yang sepertinya sudah memperhatikan mereka dari tadi. Anak XI IPA 3 itu terlihat malu, marah, dan sedih. Astaghfirullah… batin Dila, ia tahu akan terjadi sebuah masalah.
“Dit…” kata Dila, Rara yang sedari tadi bingung melihat Dila yang bengong kayak ayam dipotong mengerti yang terjadi. Ia pun khawatir akan sahabatnya yang suka asal ceplas-ceplos itu.
“Afwan ya…, ya ampun Dit, aku gak tahu kalo kamu disini, aduh…” kata Dila terbata-bata.
Namun sepertinya Radit tak mau mendengar apapun dari Dila, dengan wajah merah ia berlalu dari kantin sekolah yang ramai itu.
“Dit!” panggil Dila dan Rara hampir bersamaan. Namun Radit tidak menghiraukannya. Dila tampak pucat, ia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Rasa dag dig dug mulai menerpa hatinya. Rasanya ingin ia menampar sendiri mulutnya itu. Rara menghiburnya, “Aduh Dil, Dil. Kamu si ngomong ga dipikir dulu. Ini kan di kantin, banyak orang. Nanti kita minta maaf bareng-bareng ya, tapi jangan hari ini, pasti dia gak mau ngomong ama kita.” Dila mengangguk, bingung. Namun ia membenarkan kata-kata Rara. Besok, ia akan minta maaf.


Sengatan matahari mengiringi perjalanan pulangnya. Tak terdengar lagi kicau burung seperti yang ia dengar pagi tadi. Pucat ia, wajahnya menyiratkan kegundahan yang menerpa batinnya. Kegundahan akan salah yang ia lakukan karena lisannya. Andai semuanya bisa diulang, batinnya, namun itu hanya angan.


Dila mulai berfikir tentang semuanya. Tentang ia yang selama ini tidak bisa menjaga lisannya. Ia ingat saat ia membeberkan rahasia Salma kepada orang lain saat bercengkrama bersama, ia ingat bagaimana ia menjelek-jelekkan gurunya kepada teman-temannya, merendahkan orang lain sekan-akan ia lebih hebat darinya, ia ingat betapa ia telah membuat sakit hati ibunya dengan komentar menyakitkannya tentang baju yang susah payah dibelikan ibunya, ia ingat betapa marahnya kakak kelasnya karena ia membicarakan hal yang sangat sensitive dihadapan orang banyak. Ia ingat kata-kata yang terucap dari mereka yang ia sakiti. Tak terasa air matanya menetes. Dadanya sesak mengingat semua salahnya itu. Astaghfirullah…, ampuni hamba Ya Allah, betapa mulut ini telah menyakiti banyak orang, betapa mudahnya setan mempengaruhi hambamu ini, ampuni hamba Ya Allah, izinkanlah hambaMu ini berusaha merubah sikap, izinkanlah hamba meminta maaf kepada semuanya Ya Allah…


Ia ingat sebuah ayat di dalam Al Qur’an,
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (Q.S Al-Hujurat : 12)


Astaghfirullah… Berjuta kata khilaf ia ucapkan dalam hatinya, berjuta penyesalan ia katakan kepada Allah. Dalam hatinya ia bertekad merubah dirinya, berusaha menjaga lisannya. Ia terus berdo’a kepada Allah, memohon bantuan kepada-Nya agar ia bisa merubah sifat jeleknya. Untuk menjadi seorang muslim seutuhnya, yang mampu menjaga kata-katanya.


“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya” (Al Hadits)


Esoknya ia kuatkan tekad, ia akan minta maaf. Dengan ditemani Rara, Dila menuju kelas Radit. Kepalanya menoleh ke seluruh penjuru kelas, mencari orang yang ia cari, Radit. Namun ia tak menemukannya.
“Cari di kantin aja yuk..,” ajak Rara, Dila menurut. Ia kuatkan dirinya.
Mereka menuju kantin sekolah,namun kembali mereka tidak menemukannya. Samar-samar mereka melihat Radit keluar dari mushala, namun ia tak sendiri, ia bersama Arman, si ketua Rohis.
“Dil, itu Radit! Yuk!” Rara langsung menyeret tangan Dila menuju tempat yang dituju. Dengan rasa bersalah yang mendalam, Dila meminta maaf kepada Radit.
“Dit, maafin saya ya. Saya tahu saya udah menyakiti hati kamu, udah seenaknnya menjelek-jelekkan kamu, udah menghina kamu, saya tahu saya salah, karena itu saya sangat menyesal dan saya harap kamu mau maafin saya,” Dila berkata dengan sedikit terbata-bata.
“Ia Dil, gak apa-apa kok,aku dah maafin kamu kok. Apa yang kamu bilang kemaren gak salah, memang gak seharusnya aku memerah-merahkan rambut ini,”jawab Radit.
“Ana bukannya mau ikut campur, tapi ana tahu apa yang telah terjadi, Radit sudah cerita semua ke ana. Ana juga sudah sering dengar tentang masalah ukhti, ana cuma berharap ukhti bisa lebih hati-hati dalam menjaga lisan, karena ketika kita menceritakan hal-hal tentang saudara kita yang tidak dia suka, maka kita telah melakukan ghibah. Mudah-mudahan kejadian ini bisa menyadarkan ukhti,” Arman menambahkan.
“Ya, saya benar-benar menyesal, saya akan berusaha untuk mengontrol lisan ini. Terimakasih Dit, udah mau maafin aku,” jawab Dita dengan lebih bahagia. Mulai saat itu, Dita berusaha untuk terus menjaga lisannya dari berkata-kata yang tidak berguna, menjaga lisannya dari semua pembicaraan yang menjerumuskan, menjaga “harimau”nya…

4 komentar:

Inu Anwardani mengatakan...

Nice cerpen! jadi merenung....

Pengelana Boemi mengatakan...

Mudah-mudahan bisa jadi pelajaran..
Lw ada saran tw kritik tentang gaya bahasa dan semacamnya, boleh tu di ungkapkan, sebagai bahan pembelajaran buat an yang masih awam ini..
:)

Yekti Yuningsih mengatakan...

Ceritanya menarik, gx ngebosenin N bisa dijadikan renungan bagi yang membaca. Semoga karya antum semakin baik n digemari banyak orang..Amiin,,!

Pengelana Boemi mengatakan...

Amiin...
Syukron katsir kawan, semoga kita bisa terus bertahan di jalan dakwah yang berat ini..
;;) ;;) ;;) :D :D :D

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

So??
Apa pendapat Anda?

 

FEEDJIT Live Traffic Feed

{Hanyfa} is proudly powered by Blogger.com | Template by Agus Ramadhani | o-om.com