Assalamu’alaikum kawan semuanya…
Apa perasaan antum semua ketika ada seseorang yang menyakiti atau membuat kesalahan kepada antum? Marahkah? Benci? Atau bahkan dendam saking beratnya kesalahan yang ia buat? Atau justru antum semua mampu langsung memaafkan kesalahan orang tersebut? Jika memaafkan yang antum pilih, itu menandakan antum adalah orang yang hebat dan mulia. Iya tha? Iya dong… ![]()
Allah berfirman dalam QS. Al A’raf ayat 199,
“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”
Dalam ayat lain pun Allah juga berfirman, "...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur, 24:22)
Sikap memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain adalah sikap yang luar biasa. Sulit sekali lho, untuk bisa memaafkan orang lain dengan cepat, pasti butuh waktu yang lama untuk memulihkan keadaan dan emosi kita seperti semula. Bener nggak? Kebayang kan, ketika ada teman kita, atau saudara kita yang membuat kesalahan kepada kita? Kita semua pun pasti pernah merasakan kekesalan yang luar biasa ketika adik atau kakak kita merusakkan barang yang amat kita sayangi? Huh!! Pasti menjengkelkan, dan bisa jadi kita marah berhari-hari, atau bahkan berminggu-minggu karena kesal kepadanya.
Itu baru hal kecil kawan, barang masih bisa diganti, masih bisa dicari lagi. Namun bagaimana jika yang “dirusak” adalah orang yang kita sayangi?
Pernah ana baca tentang sebuah kisah tentang pembunuhan nenek berusia 87 tahun di Amerika pada tahun ’97 yang dilakukan oleh seorang residivis berusia 36 tahun dengan cara menggorok lehernya hingga hampir putus. Tragis banget ya? Pembunuhan ini menyisakan dendam kesumat keluarganya. Nenek tersebut dibunuh hanya gara-gara ia memergoki seorang residivis yang akan mencuri, barang milik tetangganya.
Dendam anak tunggalnya terus berkepanjangan, yang pada akhirnya pembunuh tersebut ditangkap pada tahun 2000. Residivis diajukan ke sidang pengadilan dan divonis 25 tahun penjara dan ini hukuman yang jauh lebih ringan bila dibanding tuntutan jaksa pidana mati.
Setelah putusan dibacakan, terpidana menghampiri anak korban, ia memohon maaf sambil menyampaikan penyesalan….!!! Semua pengunjung sidang berdiri dan pingin tahu apa yang terjadi, Anak korbanpun sambil menahan emosi berkata yang mengejutkan “ Allah telah memberi ampunan kepada umat Nya,… dan aku juga memaafkan kepadamu, karena Ibuku tidak akan rela bahwa kematiannya akan menyisakan dendam kesumat yang berkepanjangan dan dapat merusak kehidupan masa depan kami sekeluarga .
Sungguhpun aku sangat menyesali kematian Ibuku yang sangat tragis,… toh ia tidak akan hidup lagi, sungguhpun aku sanggup membalas kematian Ibuku dengan cara membunuhmu, atau memenjarakanmu… Ibuku juga tidak akan hidup lagi.
Penyesalan, dendam, kesal, marah dan benci yang ada dalam hatiku kalau aku pertahankan,…. Jelas hanya akan membelengguku dan merusak semangat hidupku,…. Aku rela memaafkanmu !!!”
Subhanallah…
Bagaimana jika antum yang menjadi anak nenek yang dibunuh itu? Marah? Kesal? Tidak terima atas keputusan hakim? Atau bahkan timbul niatan untuk membalas dendam dan membunuh sang pelaku juga? Ketika sang residivis datang meminta maaf, apakah antum akan mengatakan hal yang sama atau justru memaki-maki sang pelaku? Sungguh, sikap si anak benar-benar mencerminkan sikap seorang muslim dan mukmin sejati.
Tidak mudah melupakan masa lalu yang sangat menyakitkan. Tidak mudah pula menghilangkan rasa benci dan jijik bila ketemu orang yang telah menyakiti kita. Tapi apakah kita akan pertahankan rasa kesal tersebut terus menerus?
Berani memaafkan orang yang telah menyakiti kita, berani melupakan hal-hal yang menyakitkan sungguh sikap mulia yang dimiliki seseorang yang dapat memupuk sifat terpuji. Sesungguhnya manfaat besar yang ada dan paling utama adalah diri kita sendiri dari sikap memaafkan tersebut.
Lagi-lagi, dinyatakan dalam Al Qur'an bahwa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji., sebagaimana Allah berfirman,"Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia." (Qur'an 42:43) Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an, "...menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain." (QS. Ali Imran, 3:134)
Ikhwah fillah, pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur'an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu. Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.
Ana kutip dari artikel yang tulis oleh Harun Yahya, tentang “Sikap Memaafkan dan Manfaatnya Bagi Kesehatan”, beliau menuliskan, menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress (tekanan jiwa), susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.
Dalam bukunya, Forgive for Good (Maafkanlah demi Kebaikan), Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa:
Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih – memperburuk keadaan.
Sebuah tulisan berjudul "Forgiveness" [Memaafkan], yang diterbitkan Healing Current Magazine (Majalah Penyembuhan Masa Kini) edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.
Jelas kan sekarang, bahwa memaafkan, selain dianjurkan dan diperintahkan Allah kepada kita umat Islam, juga membawa dampak baik bagi si pemaaf, tak terkecuali bagi ia yang bersalah, dan tentu saja membuahkan hubungan yang baik antar manusia. Menjadikan hidup kita tenang dan tentram, bahagia lahir dan juga batin. Dan terpenting dari semuanya adalah, mendapatkan keridhoan dari Allah SWT. Jelaslah, Islam adalah agama terbaik yang membawa kebaikan bagi seluruh alam.
Wallahua’lam bishowab, semoga kita termasuk orang yang mampu memaafkan orang lain dengan tulus dan ikhlas.
Wassalamu’alaikum…
0 komentar:
Posting Komentar
So??
Apa pendapat Anda?