"Ahlan wa sahlan on Hanyfa's Blog...!"
| More

Kartini, Akankah Menangis Lagi?

.


“Kita harus membuat sejarah, kita mesti menentukan masa depan kita yang sesuai keperluan kita sebagai kaum wanita dan harus mendapat pendidikan yang cukup seperti halnya kaum laki-laki.”


Demikianlah sedikit kutipan kata yang pernah terlontar dari lisan seorang Kartini. Sosok wanita penuh mimpi yang terlahir beberapa abad yang lalu, dikala penjajahan masih dirasa negeri ini, kala wanita menjadi “babu-babu kompeni”. Ialah Kartini, pemudi Indonesia yang sungguh ingin memperjuangkan hak wanita dimasanya. Ketika banyak wanita lain hanya pasrah menjadi “perhiasan” pria, dinikmati dan dieksploitasi, ia salah satu yang berupaya merubah dunianya yang kelam menjadi bercahaya.

SETARA. Bisa jadi inilah satu kata yang mampu mewakili keinginan seorang Kartini kala itu. Sebagaimana sejarah mengatakan, bahwa di masa yang lalu wanita begitu terbatas ruang geraknya. Kerjanya hanya sebatas kasur, dapur dan sumur. Tak ada kesempatan mengenyam pendidikan, apalagi berpartisipasi dalam pemerintahan. Wanita hanyalah “alat pekerja dan pemuas” bagi pria. Beruntung Kartini lahir dari keluarga ningrat sehingga ia memiliki lebih banyak kesempatan untuk bisa lebih berkembang dari wanita kebanyakan. Namun hal ini tentunya tak cukup bagi beliau yang sungguh peduli terhadap nasib kaumnya yang kemudian menjadi alasan kuat baginya memperjuangkan hak-hak wanita.



Perlu kita ketahui bahwa bukan hanya Kartini saja satu-satunya wanita yang berjuang melawan tirani ‘penjajahan’ terhadap perempuan kala itu, namun ada rentetan nama lainnya yang juga memposisikan dirinya sebagai “pejuang wanita”. Sebutlah Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Cut Meutia, Sultanah Safiatudin, dan nama lainnya yang mungkin tak pernah tersebut dalam sejarah. Sungguh, kontribusi merekalah yang menjadikan kita –wanita—kala ini bebas bergerak dan mampu mengeksplorasi segala potensi diri. Tiada lagi pembatasan gerak, tiada lagi pengekangan sosial, tiada lagi penindasan yang secara masal dilakukan kepada perempuan, dan kesetaraan dalam segala bidang juga telah didapatkan. Pendidikan, pemerintahan, sosial, serta berbagai aspek lainnya. Ya, secara lahir kita telah bebas dan merdeka, namun begitukah dengan batin dan pemikiran kita?

Sungguh disayangkan, kesetaraan yang dahulu diperjuangkan itu sepertinya kini  menjadi kebablasan. Dengan alasan kesetaraan, emansipasi wanita, keterbukaan, kebebasan berkreasi dan sebagainya, justru dijadikan pelegalan terhadap praktek-praktek feminisme yang berlebihan serta ‘penjajahan wanita’ secara vulgar. Bukan, bukan penjajahan dengan kekerasan, namun penjajahan halus yang menyerang pola fikir yang terus menerus digulirkan kepada wanita-wanita jaman ini. Sebut saja praktek pengeksploitasian wanita yang kini sedang gencar dibicarakan; kontes kecantikan “Miss World” ataupun kontes-kontes kecantikan lainnya yang memang telah marak di Indonesia sejak tahun 80-an. Tidakkah ia sebuah penghancuran moral wanita? Tidakkah ia bentuk penjajahan yang nyata kepada wanita? Penulis secara tegas mengatakan YA! Inilah bentuk lain dari penjajahan yang dahulu pernah digulirkan kepada wanita.

Jika kita mampu melihat secara jelas, ada sebuah pola yang dilakukan dalam praktek penjajahan ini; EKSPLOITASI WANITA SECARA FISIK. Inilah cara mereka para pria menjadikan wanita objek pemuas dirinya. Melalui berbagai kontes tersebut wanita di”paksa” berlomba mempercantik diri hingga mereka secara bebas menikmati. Bahkan kini tak lagi dilakukan sembunyi-sembunyi, namun secara terang-terangan. Jika Kartini dan pejuang wanita masa lalu itu melihat kondisi wanita yang sekarang ini, akankah mereka mampu tesenyum gembira? Atau malah airmata yang tertumpah dari dua matanya? Apakah mereka akan suka melihat wanita masa kini? Dengan bikini dan rok mini yang dibanggakan? Sungguh, dalam sebuah hadits disebutkan,

الْمَرْأَةُ عِمَادُ الْبِلاَدِ إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَتِ الْبِلاَدُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَتِ الْبِلاَدُ

“Wanita adalah tiang suatu Negara. Apabila wanitanya baik, maka Negara akan baik. Dan apabila wanitanya rusak, maka negarapun akan rusak.”

Lalu apakah kontes semacam itu mampu menjadikan sosok wanita yang baik? Sungguh, bukanlah cantiknya seorang wanita yang membuat ia cantik, bukan fisik yang membuat seseorang bersahaja, namun lebih kepada hati, juga akhlak yang mulia. Kartini dan pejuang wanita Indonesia, berjuang menyetarakan hak wanita bukan dengan kecantikannya, bukan dengan menggoda, namun dengan kerja nyata, keringat dan air mata. Maka akankah air mata itu kembali tumpah karena kelalaian kita? Pilihan selalu kembali kepada diri kita masing-masing, dan begitu pula pertanggungjawabannya.


Catatan:
Untukmu yang bangga menjadi wanita Indonesia, mari kita tolak perhelatan miss world di negeri kita tercinta. Karena kecantikan wanita bukanlah satu hal yang perlu dipamerkan bahkan diperlombakan.
#KartiniIndonesia #TolakMissWorld )


Nanda Hanyfa Maulida (19) Mahasiswi semester 4 Teknik Geofisika Unila
Contributed to: 
FSLDK Indonesia, FSLDK Lampung, Birohmah Unila, FOSSI FT Unila, GK Lampung
| blog: http://nandahanyfa.blogspot.com | twitter: @nda_hanyfa |



1 komentar:

shafy mengatakan...

Subhanallah.. terenyuh, kerja nyata, keringat dan air mata.

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

So??
Apa pendapat Anda?

 

FEEDJIT Live Traffic Feed

{Hanyfa} is proudly powered by Blogger.com | Template by Agus Ramadhani | o-om.com