"Ahlan wa sahlan on Hanyfa's Blog...!"
| More

Perubahan

.

"Hahaha..., lo semua gak bakalan bisa ngalahin gue. Mau sampai kapan juga lo berusaha, lo bakalan terus kalah sama gue. Hahaha...!"
Begitulah Toni, semua orang sudah biasa dengan kesombongannya yang keterlaluan itu. Wajar. Itulah sebagian besar isi fikiran orang yang mendengar perkataanya. Karena memang wajar seorang Toni menyombongkan diri. Ia adalah putra seorang direktur besar di sebuah perusahaan terkenal di Indonesia. Bakatnya tak terhitung jumlahnya, mulai dari bidang olahraga, ilmu pengetahuan, bahasa, dan organisasi, semua ia kuasai. Tak salah memang jika ia terlalu menyombongkan dirinya. Ditambah lagi wajahnya lumayan bagus. Jadi, amat wajar ia berlaku seperti itu.

Walaupun begitu, banyak orang yang tak suka dengan sikapnya yang terlalu sombong itu. Salah satunya adalah Fajri, teman sekelasnya di SMA 900. Ia memang tipe orang yang paling membenci orang-orang seperti Toni,orang-orang yang sombong akan kemampuan yang dikaruniakan Allah kepada mereka. Orang-orang yang tak tahu diri yang menyombongkan sesuatu yang hanya titipan saja. Ia membenci sifat itu dan amat risih dengan hal seperti itu. Tepat setelah Toni menyelesaikan kalimatnya, Fajri angkat bicara.
"Jangan sombong Ton, mungkin sekarang kamu bisa omong besar, tapi suatu saat, apa yang kamu bangga-banggakan saat ini bisa hilang begitu saja."
"Heh, sapa lo? Brani bener anak biasa seperti lo ngomong kayak gitu ama gue? Lo nantang ha??"
"Mungkin saya memang anak biasa, tapi saya yakin saya lebih baik dari kamu, Ton."
"PD banget lo ngomong kayak gitu? OK, kalo lo ngerasa jago, kalahin gue dipemilihan ketua OSIS. Lo pasti gak berani, dan gak akan menang ngelawan gue, Huh!!" dengan wajah kesal dan penuh amarah Toni berlalu meninggalkan kelasnya yang masih riuh rendah akibat perkatan yang ia ucapkan tadi. Hatinya panas karena seorang lelaki yang ia anggap tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengannya, berani mengatakan hal yang tak pernah orang lain mengatakannya. Kesal. Ia tak sabar mengalahkannya.

Sementara di dalam kelas, semua teman-teman Fajri menyesalkan kata-kata yang Fajri lontarkan kepada Toni. Mereka menyalahkannya dan menyarankan agar Fajri tak menggubris kata-kata Toni. Mereka membujuk Fajri agar menyerah saja, karena memang tak mungkin ia sanggup menerima tantangan Toni.
"Gila kau Jri, brani-braninya kau berkata seperti itu pada Toni. Sudah tak waras kau rupanya," komentar Ucok.
"Sudahlah, gak mungkin kamu bisa ngalahin dia, sudah pasti bakalan banyak yang milih dia di pemilihan ketua OSIS nanti. lha kamu Jri? susah," Roni menambahkan.Sementara mereka sibuk berkomentar, Fajri hanya terdiam.Ia berfikir keras, apa yang akan ia perbuat selanjutnya.Dengan mantap ia berkata,"Aku harus menerima tantangannya. Aku harus bisa membuat dia sadar bahwa semua yang ia miliki saat ini hanyalah sebatas titipan dari Allah yang tak patut ia sombongkan."
"Ha? Kamu yakin Jri?"
"Harus!" jawab Fajri tenang. "Kalo itu emang udah keputusanmu, ku bakal bantu ampe akhir, Jri," Danu menyemangati.
"Makasih Dan, aku butuh bantuan kalian."

Hari demi hari berlalu seiring berputarnya matahari. Waktu demi waktu berganti, hingga tiba saat yang dinanti.Tidak disangka ternyata tak sedikit siswa yang mencalonkan dirinya untuk menjadi ketua OSIS. Dari tiap kelas terlihat lebih dari satu calon yang diusung. Diantara sekian banyak wajah yang hadir, terlihat Toni dan Fajri berada diantaranya. Masih nampak sorot mata sinis Toni yang kesal terhadap Fajri, ia terlihat berambisi.

Babak pertama, yaitu babak penyisihan pun dimulai. Dengan tenang Fajri menjawab soal-soal yang diberikan. Sementara Toni, terlalu sibuk memperhatikan Fajri hingga ia tidak menyadari waktu pengerjaan semakin berkurang. Ia tidak konsentrasi. Namun karena kecerdasannya, dalam waktu singkat ia dapat menyelesaikan semua soal yang diberikan. Usai mengerjakan, Toni menghampiri Fajri yang duduk menunggu Danu yang masih sibuk dengan urusan PMR nya. Dengan santai dan nada suara yang terdengar mengejek, Toni berkata, "Ternyata lo bener-bener brani. Gue yakin, nama lo gak akan terpampang di papan pengumuman besok. Lo pasti gagal!"
Tak gentar dengan kata-kata yang dilontarkan Toni, Fajri menjawab,"Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok, termasuk kamu Ton. Yang tahu semuanya hanyalah Allah, kamu gak pantas sombong seperti itu. Saya tahu, mungkin kamu memang memiliki semua yang kamu inginkan, kamu menganggap dirimu sempurna. Tapi ingat Ton, semua itu hanya titipan, gak ada yang tahu kapan titipan itu akan diambil kembali oleh yang punya, oleh Allah, jadi, jangan terlalu puas dan bangga terhadap semuanya."
Toni geram mendengar ucapan Fajri, ia tidak terima diceramahi seperti orang bodoh seperti itu."Oh, berani ya lo nyeramahin gue? Persetan ama semua omongan lo! Inget Jri, jangan sok pinter dihadapan gue, eneg gue ndengernya! Ngerti lo?!" ia pun berlalu dari hadapan Fajri. Fajri hanya bisa menggeleng dan tak tahu lagi bagaimana menyadarkan teman sekelasnya itu. Sementara Danu yang tak tahu apa-apa melongo melihat Fajri yang tiba-tiba muram.

*****

Mading sekolah telah penuh sesak oleh siswa yang penasaran dengan hasil tes kemarin. Oksigen yang tersebar diudara pun serasa berkurang dan semakin tipis sangking banyaknya hidung yang menghirupnya. Cuaca yang sejuk tiba-tiba berubah menjadi pengap, suasana dinginnya pagi bermetamorfosa menghasilkan sumpek yang amat sangat. Daftar nama di mading kini menjadi idola baru di SMA 900, saking ngetopnya, tiap detik ia dipelototi mata-mata manusia yang penasaran akan keelokannya. Daya tariknya melebihi Luna Maya atau Dewi Sandra. Tak jarang para siswa sampai terharu karenanya. Hebat juga kertas itu, bisa menghipnotis semua siswa. Fajri yang bisa dibilang kalem, tak tahan bila harus berdesak-desakan seperti itu. Ia pasrah saja, ia hanya diam, menunggu semua siswa pergi meninggalkan pasar dadakan itu. Namun berbeda dengan Danu, ia benar-benar tidak sabaran dan akhirnya nekat menyemplungkan diri ke lautan manusia itu. Dan tak lama, dengan wajah yang amat girang, ia berteriak-teriak seperti baru mendapatkan undian berhadiah.
"Fajri, kamu lolos Jri! Lolos!", Fajri hanya tersenyum. Namun berjuta syukur dilantunkannya dalam hati.
"Jri, pokoknya kamu harus bisa ngalahin si Toni itu. Cuma itu caranya supaya dia bisa tobat Jri. Lama-lama eneg juga ndengerin semua ocehan sombongnya itu. Capek, Jri. Tapi jangan juga diniatkan hanya sebatas itu, aku lihat, kamu juga pantas kok untuk bisa menjadi pemimpin." celoteh Danu panjang lebar.
"Ya, doakan saja Nu, mudah-mudahan Allah berikan yang terbaik untuk saya. Dan mudah-mudahan juga, yang terbaik dimata Allah itu baik juga dimata kita semua."
"Amiiiin..."
"Oya, gimana dengan Toni, dia lolos juga?" tanya Fajri.
"Ya jelas lah Jri, gak mungkin dia gak lolos, mustahil"
"Lho, siapa tahu, yang menentukan kan Allah"
"Ya pak Ustadz, hehe..."canda Danu. Fajri hanya tersenyum.
Sementara itu, Toni sedikit kesal karena melihat ada nama Fajri menyembul diantara deretan nama-nama calon ketua OSIS yang lolos babak penyisihan itu. Namun ia terus meremehkan Fajri. Ia menganggap itu hanya kebetulan saja dan yakin ia yang akan menjadi penguasa siswa 900.

Penyisihan demi penyisihan telah selesai dilaksanakan, hingga akhirnya terpilihlah tiga kandidat terkuat. Mereka adalah Rio Ardian, Toni Hendrawan, dan Fajri Salman Kurniawan. Merekalah yang akan bertanding, berusaha mengambil hati para siswa, bertarung untuk menjadi sang Ketua. Banyak yang tak menyangka Fajri bisa lolos hingga akhir. Banyak yang kagum melihat kerendahan hati yang ia miliki. Toni makin gusar karena ia pun tak menyangka Fajri bisa mengimbanginya. Pertarungan pun tak terelakkan.

Tiap kandidat mulai beraksi, berkampanye, menyampaikan visi misi yang diusungnya. Seluruh siswa terlihat antusias, mereka menyimak tiap kata yang diucapkan tiap kandidat. Tak jarang terdengar tepuk tangan dan sorak sorai meriah dari lapangan 900, tempat para kandidat bersemayam. Rio, yang terkenal dengan kehebatannya bermain basket tentu saja banyak menyinggung masalah olahraga, terutama basket. Ia menjanjikan tersedianya fasilitas yang lengkap bagi semua olahraga, dan lagi-lagi basketlah yang ia utamakan. Toni, tak banyak mengumbar janji. Namun ia terus mengelu-elukan dirinya sendiri. Ia membanggakan dirinya yang punya banyak prestasi disegala bidang. Ia meyakinkan semua siswa agar memilihnya di pemilihan nanti,"Kalian tidak akan menyesal menjadikan saya sebagai ketua OSIS, karena tidak ada yang lebih baik daripada saya. Terimakasih" itulah kata yang ia ucapkan diakhir pidatonya. Kini tiba giliran Fajri, dengan tenang dan santai, ia mulai berceloteh dihadapan para siswa.

"Assalamu'alaikum, Alhamdulillah, saya ucapkan ribuan syukur kepada Allah yang telah memberikan kesempatan kepada saya yang tidak memiliki apa-apa ini untuk bisa mengabdikan diri di SMA 900 ini sebagai ketua OSIS, meskipun belum tentu nantinya saya yang akan terpilih, tapi saya amat sangat bangga bisa mencapai tingkatan ini, menjadi 1 dari 3 kandidat calon ketua OSIS. Saya bukanlah malaikat yang bisa memberikan semua yang anda inginkan, tapi saya akan mencoba dan berusaha memberikan yang anda butuhkan. Saya mungkin bukanlah seorang pemimpin yang sempurna, tapi saya akan berusaha dan belajar menjadi pemimpin seperti Umar, Abu Bakar, seperti Ali, dan semua khalifah terdahulu, yang selalu dicinta umatnya dan menjadi teladan yang baik bagi manusia. Saya akan berusaha menjadi pemimpin yang mengetahui setiap kebutuhan rakyatnya, menjadi pemimpin yang mampu berkomunikasi dan dekat dengan semua siswa, menjadi pemimpin yang bisa menerima kritikan yang membangun bagi sekolah ini, dan menjadi pemimpin yang terbuka dan tidak otoriter. Saya akan berusaha memberi yang terbaik dari yang saya miliki, menjadikan seluruh siswa di SMA 900 ini menjadi siswa yang berwawasan luas, memiliki moral yang baik, dan mampu berprestasi setinggi-tingginya. Saya akan mencoba menjadikan SMA ini menjadi SMA yang terpandang, dan menjadi SMA yang dikenal luas oleh SMA lain sebagai SMA yang berbudi luhur dan berakhlak mulia. Mari bersama-sama kita wujudkan suasana nyaman di SMA kita tercinta ini, berikan saya kesempatan untuk bisa memberikan yang terbaik untuk 900 dan anda semua. Karena bersama, kita pasti bisa! Wassalamu'alaikum."

Sorak sorai pun terdengar. Mereka mengelu-elukan semangat yang Fajri perlihatkan. Toni pun sedikit kaget dengan apa yang baru saja ia simak. Namun setan langsung merasuk ke dalam otaknya, lagi-lagi Toni gusar. Tak sabar ia, dengan cepat ia berkomentar, "Banyak omong lo Jri, lo tu gak ada apa-apanya dibandingin gue, lo gak bakal bisa ngalahin gue!"
"Memang saya gak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan kamu, tapi kamu gak bisa menentukan kemenangan atau kekalahan."
"Gue brani menjamin lo gak akan menang!"
"Ton, udah berapa kali saya bilang, jangan sombong. Itu sifat yang paling dibenci oleh Allah. Dan jangan suka remehkan orang lain, walaupun kamu memiliki kelebihan yang jauh melampaui orang yang kamu rendahkan. Saya ingatkan lagi, semua hanya milik Allah, kita diberikan amanah untuk menjaga titipan itu. Manfaatkan dengan baik, jangan kamu jadikan itu sebagai kesombongan. Maaf kalau saya terlalu menggurui, saya hanya ingin yang terbaik untuk teman saya, untuk saudara saya, untuk kamu Ton, maaf, assalamu'alaikum." Fajri berlalu meninggalkan Toni yang sedikit tersentuh dengan kata-kata yang barusan ia dengar. Namun kesombongannya yang terlalu besar menjadikan ia lupa dan menganggap semuanya angin lalu.

Hari pemilihan pun tiba, semua siswa terlihat antusias dan penuh semangat. Bagaikan pemilu sungguhan, mereka mengantri menuju bilik suara, menunggu namanya dipanggil untuk memilih sang calon yang telah ditetapkannya. Tiga jam berlalu, kini tiba saat penghitungan. Antusias para siswa tidak sedikitpun memudar, bahkan bertambah. Semua kandidat berkumpul untuk melihat hasil yang telah ditunggu-tunggu. Surat suara pun satu persatu dibuka. Nama-nama kandidat bergantian disebutkan. "Toni.., Rio.., Fajri.., Rio.., Toni.., Toni.., Fajri..." gema suara teriakan para pendukung tiap kandidat pun tak henti-hentinya terdengar. Terlihat Toni memimpin, namun Rio dan Fajri terus mengejar dengan suara yang mereka dapatkan. Tak lama Toni terkejar oleh Rio dan Fajri, ia tertinggal jauh. Terlihat wajah gusar Toni yang tidak menyangka akan seperti ini. Sementara Rio dan Fajri masih terus berlomba mendapatkan suara terbanyak, Toni hanya bisa terdiam melihat kenyataan pahit yang ia alami. Ia sudah positif gagal. Tak lama Fajri pun memimpin, hingga akhirnya surat suara habis dibacakan dan Fajrilah ketua OSIS terpilih. Riuh rendah siswa yang menyaksikan penghitungan suara itu berbarengan dengan ucapan syukur Fajri, dzikir terus ia lantunkan dalam hatinya, ia meminta kepada Allah untuk diberikan kemudahan untuk menjalankan amanah baru yang diembannya.

Rio langsung menjabat tangan Fajri dan mengucapkan selamat kepadanya, Toni pun demikian. Namun Fajri melihat kekecewaan di wajah Toni. Toni terlihat muram. Tidak disangka, ia meminta maaf kepada Fajri,"Maaf Jri, maaf selama ini gue terlalu sombong dan meremehkan semua orang termasuk lo. Gue gak tahu deh harus gimana lagi, padahal lo udah berusaha nasehatin gue, tapi gue terlalu membesarkan ego gue sendiri sampe-sampe gak mau ndengerin semua omongan lo kemaren. Gue minta maa Jri, gue sadar sekarang, gue gak ada apa-apa nya kalo dibandingin lo. Gue ini manusia rendahan."
"Jangan ngomong gitu Ton, saya seneng banget kamu bisa menyadari kekeliruanmu selama ini. Alhamdulillah Allah dah ngasih kamu kesempatan untuk bisa ngerubah sikap. Jangan sia-siakan semua ini Ton, kamu punya kelebihan yang bisa kamu gunakan untuk kebaikan. Nantinya pun saya akan butuh banyak bantuan dari kamu, saya masih belajar."
"Itu sih masalah gampang. Lo bisa hubungi gue kapan pun lo butuh bantuan gue. Dan, makasih banget udah mau ngingetin gue."
"Sama-sama Ton, kita semua adalah saudara yang wajib mengingatkan satu sama lain. Tetep semangat ya kawan. Kita sama-sama berjuang"
"Pastinya. Terus ingetin gue ya Jri, karena gue masih butuh bimbingan."
"Ya, InsyaAllah."

Kini Fajri dan Toni menjadi sahabat dekat. Toni menjadi penasehat bagi Fajri di OSIS dan Fajri tak bosan-bosannya mengingatkan Toni ketika ia mulai lupa. Toni yang sombong menjadi Toni yang ramah dan rendah hati. Tak ada lagi yang membencinya, dan ia pun menjadi orang yang disukai banyak orang, karena perubahannya.

2 komentar:

Inu Anwardani mengatakan...

Rasulullah pernah bersabda:
"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji dzarah dari sifat kesombongan."

:)]

Pengelana Boemi mengatakan...

Yaps..
banyak yang tidak sadar bahwa semua yang ia punya adalah sekedar titipan dari Allah, hingga mereka merasa berkuasa atas segala yang dimilikinya dan menjadi riya'
:D

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

So??
Apa pendapat Anda?

 

FEEDJIT Live Traffic Feed

{Hanyfa} is proudly powered by Blogger.com | Template by Agus Ramadhani | o-om.com