“Pagiiii…….,”sapaku pada dunia.
Pagi ini cuaca begitu segar, angin semilir menerobos kamarku melalui jendela kecil yang dari Subuh tadi kubuka. Kicau burung sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Kokok ayam seakan geram melihat tuannya masih tidur pulas diatas spring bed empuknya. Tetesan embun di dedaunan menambah pesona indahnya fajar kali ini. Hah… betapa Agungnya Engkau Ya Allah, Engkau ciptakan bumi sedemikian indahnya. Andai manusia tak serakah, mungkin keindahan seperti ini akan selamanya abadi tanpa harus hilang, dirusak tangan-tangan bersarung mesin yang terus memusnahkan hijaunya pohon-pohon. Ya, andai manusia tak serakah.
“Randii…!! Jangan ngelamun aja dikamar, piring-piring belum kamu cuci tu!!” teriak Umi dari dapur, membuat jantung ini serasa mau copot.
“Iya, mi… Sebentar,” jawabku sigap. Ah! Saking asyiknya aku menikmati suasana pagi, aku jadi lupa tugas rutinku tiap pagi. Ya, aku memang seorang laki-laki, namun karena aku adalah anak tunggal di keluargaku, jadilah semua pekerjaan aku yang mengerjakan. Mulai dari cuci piring, cuci baju, menyapu, mengepel, semua aku yang mengerjakan. Bahkan kadang, aku harus menggantikan umiku memasak jika ia sakit. Mau bagaimana lagi? Memang sudah seharusnya aku begini, membalas semua jasa Umi dan Abi yang sudah membesarkanku dari bayi.
“Umi, bikin jantung Randi copot aja, kalo’ mau teriak bilang-bilang dulu dong, mi, biar Randi bisa siap-siap tutup kuping, hehe…”
“Kamu ini, udah tu, cepet dikerjain kerjaannya, nanti terlambat.”
“Siap, Bos!” jawabku sigap. Cepat-cepat aku selesaikan semua pekerjaan pagiku. Dan sebelum jam 7, aku telah siap dengan seragam putih abu-abu ku dan semua perlengkapanku.
“Umi, Abi, Randi berangkat ya. Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumussalam…” jawab mereka.
Sampai di sekolah aku langsung di sambut oleh teman baikku, Wisnu. Dengan senyum khasnya, ia mendatangiku dan dengan segera menjabat tanganku. Kebiasaan yang dari dulu kami lakukan, sebagai simbol persahabatan.
“Apa kabar bro?”sapanya.
“Alhamdulillah..”
“Udah ngerjain PR Bu Arni blum?”
”Pastinya udah dong, dan pasti lu belom kan Nu?”
“Hehehe… Tau aja lu Ran, nyontek ye?”
“Rebees..! Ambil nih di tas gue.”
”Syukron sobat!”
Yah, begitulah Wisnu, selalu mengandalkanku tiap ada tugas. Apapun tugasnya, dia tidak pernah mengerjakannya sendiri. Bukan kareana dia malas, bukan pula karena dia bodoh. Jika mau, pasti nilai-nilainya jauh diatas nilaiku. Tiap ulangan pun nilainya tak pernah dibawah delapan puluh. Tapi, nasiblah yang mengharuskannya seperti itu. Wisnu adalah anak tertua, dan ia memiliki 2 adik. Ayahnya sudah tiada sehingga ia harus membantu ibunya mencari nafkah untuk adik-adiknya. Inilah yang menyebabkan dirinya tidak sempat mengerjakan tugas yang diberikan para guru.
Wisnu adalah anak yang sangat rajin, baik dalam pelajaran, pekerjaan, maupun ibadah. Dialah yang selama ini sering mengingatkan aku untuk selalu menjaga shalatku, mengajak aku untuk selalu shalat dhuha, dan mendorongku untuk shoum sunnah tiap senin dan kamis. Dia seperti guru bagiku. Maka dari itu, aku tak pernah segan meminjamkan buku tugasku padanya.
“Makasih ya, Ran. Hari ini shoum kan?”
“Ya, alhamdulillah.”
“Good, itu baru temen gue.” Senyum Wisnu mengembang, tepat dengan berbunyinya bel sekolah.
Bau-bauan dari kantin sekolah sedikit menggoda perutku. Hampir saja liur ini menetes melihat teman-temanku yang lain melahap bundaran-bundaran bakso mang Ujang, kalau tidak diingatkan Wisnu yang sepertinya tahu aku sedikit tergoda.
“Awas ngiler, inget shoumnya,” sindirnya ringan. Aku hanya tersenyum kecil dan mengalihkan pandanganku dari kantin dan bergegas mengejar Wisnu yang telah sampai di masjid kesayangan kami.
Usai shalat dhuha, terlihat wajah Wisnu teduh sekali. Lama aku memperhatikannya, seperti ada sesuatu yang lain dengan dirinya.
“Ngapain lu ngeliatin gue? Naksir lu?” ucapnya.
“Enak aja, emangnya gue kaum Nabi Luth? Ogah ye…”
“Lha trus? Emang mata gue ilang satu? Atau lobang idung gue ada 3? Atau kenapa?”tanyanya.
“Hhaha.. gila aja lu. gue ngeliatin lu, karena gue liat sepertinya wajah lu tu memancarkan sesuatu yang berbeda gitu Nu.”
“Lha itumah pasti, gue kan ahli ibadah. Hahaha…”
”PD lu!”
Tiba-tiba air mukanya berubah, seperti memikirkan sesuatu.
“Eh Ran, lu nyadar nggak sih, bentar lagi kita bakalan pisah jauh, kita bakalan ketemu lagi nggak ya Ran?” tanyanya serius. Deg! Aku tidak menyangka Wisnu tiba-tiba mengatakan kata-kata itu.
“Iya sih, ujian sebentar lagi, nggak kerasa ya, udah hampir tiga tahun kita bareng.”
”Iya, mudah-mudahan kita masih bisa bertemen ampe kapanpun ya, Ran.”
“Amin. Dah ah, ngomongnya serius amat. rumah kita deket ini, walaupun dah nggak di SMA lagi, kita kan masih bisa sering nongkrong bareng,”
“Hah, jadi inget semua temen dikelas. Eh, maaf ya kalo gue ada salah ama lu.”
“Udah ah, kayak apaan aja lu, ya gue maafin, maafin gue juga ya.”
Kembali senyum Wisnu mengembang, manis sekali. tak biasanya Wisnu tersenyum begitu indahnya. Ketenangan terpancar dari raut wajahnya.
Kembali aku terheran-heran dengan tingkah Wisnu hari ini. di kelas ia menyalami seluruh teman satu per satu dan meminta maaf kepada mereka. Tak heran banyak yang bingung akan ulahnya. Aku sendiri tak bisa menjawab apa-apa ketika beberapa teman bertanya padaku perihal tingkah anehnya itu. Aku pun bertanya-tanya, ada apa dengan Wisnu?
Tak begitu kuperdulikan fikiranku yang sedikit aneh. Kembali aku mengerjakan rutinitas harianku yang tak mungkin kutinggalkan. Usai beres-beres langsung ku bersihkan tubuhku yang sedikit bau keringat ini. Segar rasanya setelah menyentuh air. Kini ku siap menjalani hari baruku.
Sampai di sekolah, aku kembali merasakan perasaan yang tidak enak. Lebih-lebih ketika aku memasuki kelasku tercinta. Aku tidak melihat Wisnu, dimana dia? Ah,mungkin di masjid, fikirku cepat. Langsung saja aku mendatangi masjid sekolah, tak enak rasanya jika pagi ini aku tidak melihat wajah sahabat dekatku itu. Setibanya aku di masjid, kembali aku tak melihat sosoknya. Hanya ada beberapa teman-teman Rohis yang duduk santai di masjid. Jadi, dimana Wisnu? Dia selalu datang sebelum aku sampai di sekolah. Tak biasanya dia seperti ini. ada apa? Lebih baik aku menunggunya di kelas, fikirku.
Baru saja aku melangkah beberapa meter dari masjid, Doni teman sekelasku memanggilku dengan wajah yang memancarkan ketegangan.
“Ran! Randi! Wisnu Ran!”
Wisnu? Ada apa dengannya?
“Kenapa ama Wisnu, Don?”
“Wisnu, dia di rumah sakit, kecelakaan!”
”Masya Allah, kapan kecelakaannya? Parah nggak?”
“Gue kurang tahu parah nggaknya, yang jelas sekarang dia lagi di ruang UGD,” Doni berkata dengan nafas yang terengah-engah. Langsung saja aku bergegas pergi ke rumah sakit untuk melihat sahabatku itu. Ya Allah, selamatkanlah Wisnu, selamatkanlah Wisnu.
Dzikir mengalun kuat didadaku. Lantunan doa tak henti-hentinya kulafadzkan untuk keselamatan Wisnu sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit. Ya Allah, izinkan aku bertemu dengan Wisnu. Teringat semua kejadian saat aku bersamanya. Teringat semua keceriaan Wisnu, kegigihannya, ketaatannya, keimanannya yang begitu kuat. Teringat semua nasehat-nasehat yang ia berikan kepadaku. Teringat senyum khasnya yang tak dimiliki orang lain. Ya Allah, selamatkan saudaraku, selamatkan Wisnu.
Bergegas aku menuju ruang UGD, terngiang di kepalaku kata-kata yang ia sampaikan kepadaku kemarin. Kata-kata yang saat ini benar-benar aku takuti, kata-kata yang kuharap tidak terjadi saat ini. Bentar lagi kita bakalan pisah jauh, kita bakalan ketemu lagi nggak ya Ran? Masya Allah, astaghfirullah, jika aku boleh meminta, jangan ambil ia saat ini Ya Allah…
Tak terasa hujan gerimis jatuh di pipiku. Tak kuasa aku menghentikan derasnya linangan air mata yang terus mengalir dari mataku saat melihat Wisnu terbaring tak berdaya di ranjang Rumah Sakit. Ku beranikan diri meminta izin kepada sang dokter untuk masuk menemui Wisnu.
“Nu, ini Randi, kamu harus kuat Nu, kasian ibumu di rumah. Inget Nu, inget adik2mu,” ucapku kepadanya. Ntah ia mendengarnya atau tidak.
“Nu, inget Allah, istighfar Nu, istighfar…”
Terlihat Wisnu membuka matanya. Sedikit demi sedikit ia menoleh ke arahku. Tak kuasa aku menahan air mata. Wisnu seperti mengatakan sesuatu. Ku dekatkan telingaku ke arahnya.
“Allah… Allah…” lirihnya.
“Ya, Nu. Kamu harus kuat, Allah pasti menguatkanmu.”
Aku benar-benar tak bisa berkata apa-apa lagi. Tak tahan aku melihat sahabatku dengan kondisi seperti ini. kembali aku melihat senyum Wisnu mengembang meski dengan susah payah. Senyum indah miliknya, senyum yang memancarkan ketegaran seorang pria, senyum yang memperlihatkan seorang hamba yang bertakwa. Subhanallah, aku mendengarnya melafadzkan kalimat toyyibah. laa illaha ilallah…Wisnu pun menghembuskan nafas terakhirnya. Innalillahi wa innailaihiraji’un… hatiku serasa disambar petir. Tak kuasa kuhentikan air mata ini. Kembali kuingat kata-kata Wisnu kemarin. Inikah perpisahan itu Nu? Inikah yang kau maksud berpisah jauh? Ya Allah, ia adalah sahabatku yang amat aku cintai. Masukkanlah ia ke dalam syurgamu. Pertemukan lagi kami nanti di hadapanmu sebagai sahabat yang abadi. Kuatkan hamba Ya Allah.
Wisnu pergi dengan khusnul khotimah. Ia pergi dengan senyumnya, melafazkan kalimat toyyibah. Tak kusangka perpisahan yang ia maksud secepat ini. Saat ini yang tersisa hanya kenangan, kenangan ku bersama Wisnu, sahabatku yang amat kusayangi. Kini ku hanya bisa mengingat senyum terakhirnya, senyum yang tak pernah bisa terlupa, senyum terakhir Wisnu. Selamat tinggal Wisnu, tunggu aku disyurga. (AKQ)
0 komentar:
Posting Komentar
So??
Apa pendapat Anda?