Kaki kecil itu melangkah riang penuh semangat. Senyumnya mengembang, terlihat begitu bahagia. Ia lewati trotoar jalan yang penuh dengan hiruk pikuk manusia, berlari kencang, sambil sesekali melonjak girang, untuk satu tujuan, mengambil jatah daging qurbannya.
Ditangannya telah ia genggam sebuah kupon kecil, bertandakan panitia qurban salah satu masjid di kotanya. Disana ada sebuah tulisan yang sangat jelas dan besar, SATU KUPON UNTUK 3 ONS. Ya, hanya 3 ons, namun berarti besar, khususnya untuk anak sepertinya.
Ditangannya telah ia genggam sebuah kupon kecil, bertandakan panitia qurban salah satu masjid di kotanya. Disana ada sebuah tulisan yang sangat jelas dan besar, SATU KUPON UNTUK 3 ONS. Ya, hanya 3 ons, namun berarti besar, khususnya untuk anak sepertinya.
Sejak seminggu kemarin, Rina menunggu saat-saat ini. Untuk anak seperti Rina sangat wajar bila Idul Adha menjadi moment yang begitu ditunggu. Pekerjaan ibunya yang hanya penjual jamu keliling tak pernah memberinya peluang untuk mencicipi makanan yang bagi sebagian orang menjadi makanan yang biasa. Ya, hanya saat inilah, hanya ketika idul Adha ia mampu makan daging.
“Bu, ayo cepet! Nanti kita nggak kebagian,”ia memanggil ibunya.
“Iya Rina, pelan-pelan saja. InsyaAllah dapat,”ucap sang ibu lembut. Sepanjang perjalanan, ia kembali mengingat segala yang terjadi seminggu ini.
“Bu, kapan kita bisa makan daging?” Tanya Rina bersemangat.
“Seminggu lagi nak, insyaAllah seminggu lagi.”
“Bener ya, Bu?” tanyanya lagi.
“Iya Rin, insyaAllah seminggu lagi kita bisa makan daging. Rina mau dagingnya dimasak apa?”
“Kita sate aja, Bu. Pasti enak!”jawabnya bersemangat.
“Boleh, nanti kita bikin sate kambing.”
“Horee…! Kita makan sate! Kita makan sate!” terngiang di fikiran sang ibu tentang obrolannnya dengan Rina seminggu yang lalu. Sejak itu Rina selalu menanyakan tentang hal yang sama setiap hari. Dan sang ibu dengan sabar meladeni pertanyaan sang anak. Tak mau Rina yang ia sayangi kecewa.
Setiap hari pun Rina pamer kepada temannya. Dia akan makan daging dan membuat sate kambing. Semua orang di kompleks kumuh tempatnya tinggal ia beritahu. Tak ada yang tertinggal. Dari mulai teman-temannya, hingga kakek tua ia beritahu semua. Ia benar-benar bahagia dan menunggu saat-saat itu.
Pernah suatu kali ia mulai bercerita kepada seorang ibu, tetangganya. Dengan antusias, seperti biasa, ia berceloteh khasnya anak-anak, “Bude, minggu depan Rina mau makan daging. Trus, sama ibu mau dibuatin sate, enak kan bude?”celotehnya penuh suka cita. Namun tak begitu balasan dari si tetangga.
“Heh, Rina! Ibu kamu itu bohong! Kamu nggak akan mungkin dapet daging qurban, dari dulu, kita disini nggak pernah dapat jatah daging dari manapun. Jadi jangan mimpi Rina! Jangan terlalu senang! Nanti kamu malah nangis-nangis karena nggak jadi makan daging!” ucapnya penuh kesinisan. Bagai tersengat listrik, tubuh Rina lemas. Ia sedih mendengar penuturan orang itu. Apa iya dia tidak akan jadi makan daging? Apa ia tahun ini tidak ada lagi jatah untuk mereka? Rina menangis, ia pulang dengan menangis.
“Rina? Kenapa nangis sayang?”ucap sang ibu lembut.
“Kata bude, kita nggak akan dapet daging qurban, kita nggak akan bisa makan daging dan masak sate. Kata bude, Rina nggak bisa makan daging lagi bu… hhuhuhu…”tangisnya syahdu. Sang ibu terdiam sedih mendengar penuturan anaknya. Memang selama ini, orang-orang diwilayahnya tidak pernah mendapatkan jatah daging qurban. Sudah sekitar 5 tahun lalu mereka tak lagi diberi jatah. Ntah kenapa, dirinya dan warga lain tidak mau tahu soal itu. Dan tidak ada yang pernah berharap lagi atas daging qurban yang seharusnya dibagikan pula kepada mereka. Namun berbeda dengan Rina yang memang tak pernah mencicipi rasa daging itu, ia amat berharap dan wajar bila sangat sedih mendengar penuturan orang itu. Tak terasa pipi sang ibu mulai basah, perlahan ia menghibur gadis kecilnya.
“Tenang aja Rina, Rina pasti makan daging kok. Kita pasti dikasih kok, Rina jangan dengerin omongan bude ya, tadi mungkin bude lagi sakit, jadi marah-marah sama Rina.”
“Jadi kita pasti makan daging Bu?”
“Iya.”
“Janji ya, bu?”
“InsyaAllah, nak…”
“Jangan insyaAllah dong bu, ibu harus janji.”
“Iya, nak. Ibu janji, insyaAllah. Sekarang Rina jangan sedih lagi, ya?”
“Iya, bu. Rina nggak sedih lagi,” ia telah girang kembali.
Kata-kata sang anak membuat ibu khawatir. Ia khawatir mengecewakan anak semata wayangnya. Ia tak mau membuat sedih anaknya yang telah yatim itu. Benar saja, 3 hari sebelum idul adha ia tak mendapat kupon apapun dari masjid manapun. Padahal Rina selalu bertanya, dan ia hanya bisa membesarkan hati putrinya itu. Berputar otaknya mencari cara, ia memutuskan untuk mendatangi panitia qurban di sebuah masjid. Bergegas ia bersiap, dan menuju kesana. Penuh harap sang ibu mencoba berdiplomasi dengan salah seorang panitia.
“Tak pernah ada yang meminta dibagikan kupon seperti ini sebelumnya. Ibu tahu sendiri, kita biasa datang ke daerah yang warganya berqurban di masjid ini. Sedangkan di daerah ibu tidak ada yang berkurban. Seharusnya kami tidak bisa memberi kupon kepada ibu,” jelas bapak itu.
“Saya mohon pak, satu kali ini saja. Satu kupon saja, pak. Ini bukan untuk saya, tapi untuk anak saya. Dia tidak pernah merasakan bagaimana nikmatnya daging kambing ataupun sapi selama 7 tahun ini. Saya mohon, pak.” Lama mereka bicara. Bernegosiasi. Hingga akhirnya, sang ibu berhasil mendapatkan satu kupon untuk quota 3 ons. Ia tenang, syukurnya tak henti ia lafadzkan.
Bahagia, tak hanya Rina yang bahagia hari itu. Sang ibu pun bahagia. Bersemangat mereka mendatangi masjid Ar-Rahman, tempat daging qurban dibagikan. Sebelumnya mereka sholat ied di lapangan bola samping kompleksnya. Dengan langkah pasti, mereka injakkan kaki di pintu gerbang masjid. Ternganga sang ibu. Sekeliling masjid telah penuh dengan manusia. Berdesakan, mengantri untuk mengambil jatah masing-masing. Ia ambil kupon dari sang anak, melihatnya sebentar, dan berkata dalam hati, ”apa aku harus bersusah payah seperti ini untuk sedikit daging yang akan kudapatkan? Jika bukan karena anakku, tak akan mau aku bergulat dengan ribuan orang seperti ini.”
Ia angkat Rina, dan digendongnya. Dengan cekatan, ia menyusup disela-sela himpitan manusia. Sesekali ia berhenti, menanyakan kondisi anaknya dan kembali bergulat dengan ribuan ketiak. Cukup lama ia berada dikerumunan orang itu, namun akhirnya ia berhasil mendapatkan jatah qurbannya.
“Rina, dagingnya dipegang yang kuat ya. Jangan sampai jatuh ya, nak.”
“Iya, bu.”
Kembali ia melawan arus manusia. Perlahan ia kembali, menuju pintu gerbang masjid. Namun kali ini tak semudah yang tadi. Kerumunan itu semakin rusuh, sedikit tak terkendali. Dorongan dari berbagai arah membuatnya sedikit oleng, Rina mulai menangis karena terhimpit. Kerusuhan semakin tak terkendali hingga membuat genggaman Rina menjadi lemah. Dan JATUH.
“Awas Pak! Jangan diinjak! Astaghfirullah… Tolong jangan diinjak! Itu daging untuk anak saya, Pak! Stop! Berhenti! Jangan injak! Awas Bu! Jangan injak…!” mengalir deras air mata mereka berdua. Terpaku dalam kerumunan manusia, tak kuasa menghentikan pijakan-pijakan pada daging yang susah payah mereka dapatkan. “Astaghfirullah… Kuatkan kami Ya Allah… Tolonglah kami…”
Di emperan jalan, keceriaan Rina sedikit pudar. Ia takut berkata pada ibunya. Linangan air mata sang ibu membuatnya ragu untuk berkata. Lama mereka terdiam, Rina mulai bicara.
“Bu, dagingnya masih bisa kita makan kan?”perlahan sang ibu menghapus air matanya. Ia berusaha tersenyum menjawab pertanyaan bidadari kecilnya.
“Masih nak, masih bisa kita makan kok. Sekarang kita pulang yuk, kita bersihkan dagingnya, trus kita sate, ya?”
“Uhm…”Rina mengangguk, “Iya, bu.”
Mereka kembali ke rumahnya. Membawa sebungkus, atau bisa dibilang, segenggam gumpalan daging yang telah pipih dan berlumur tanah dan pasir. Berharap mereka masih bisa menikmatinya, meski dengan susah payah harus membersihkannya.

0 komentar:
Posting Komentar
So??
Apa pendapat Anda?