SMAN 2 Kotabumi, tempat bersejarah yang tak akan mungkin terlupa hingga nanti kita tak bersama. Pengen nangis rasanya kalo’ inget tak lama lagi kita akan berpisah. Rasanya baru kemaren kita dipertemukan di sini, di sambut kakak-kakak yang gokil, mbak-mbak yang mempesona, dan guru-guru yang luar biasa. Di sini kita bertemu dan saling mengenal, terkadang marah, sedih, bahagia, tertawa, dan bahkan “gila”. Disini pula kita melakukan perjuangan yang luar biasa. Perjuangan dalam dakwah sekolah.
Pertama kali mengenal kalian, otak ini dipenuhi dengan berbagai prasangka. Siapa yang punya keinginan sama denganku? Siapa yang punya sudut pandang yang sejalan denganku? Akankah aku menemukan sahabatku diantara mereka? Atau justru aku malah akan tersudut dan terkucilkan sendiri di sini? Sementara teman-teman satu SMP ku tak ada yang sekelas denganku. Yah, sedikit ciut nyaliku ketika itu. Takut jika tak ada yang sefaham denganku saat itu, sefaham dalam urusan dakwah.
Sedikit demi sedikit, rasa pesimis dalam hati memudar. Bertemu dengan orang-orang luar biasa, orang-orang yang memiliki semangat baja dalam urusan meluruskan agama. Bertemu dengan mereka, para aktifis dakwah sekolah, para aktifis Rohis. Bagaikan pungguk merindukan bulan, bagaikan pujangga yang menanti kekasihnya, langsung aja ku cabut dan bergabung dengan mereka. Dan kulihat, kau pun melakukan hal yang sama. Meski kita berasal dari tempat berbeda, meski ketika itupun kita tak satu kelas, tapi ada sesuatu yang membuatku yakin bahwa nanti ukhuwah itu akan terjalin dengan indah.
Ya, disinilah perjuangan kita dimulai kawan, di Rohis segalanya bermula. Pengajian tiap pekan kita ikuti terus dengan antusias, kegiatan yang selalu membuat azzamku meledak, semua acara yang dilakukan di”markas besar” kita, tak akan mungkin terlupa hingga kapanpun. Ku ajak teman-teman terdekatku untuk mau bergabung bersama. Ketika itu hanya ini yang baru bisa kita berikan, ketika itu hanya partisipasi yang baru bisa kita persembahkan. Namun ku lihat semangatmu telah membara dari awal, ku yakin, ini akan menjadi awal yang baik bagi apa yang kuharapkan.
Semakin lama, semakin aku memperhatikan kalian, semakin melejit semangat dalam diriku. terkadang aku iri kepada kalian yang terlihat lebih aktif, dan sepertinya lebih dekat dengan mbak-mbak di Rohis. Aku sampai mencari tahu, siapa sebenarnya dirimu hingga kau bisa seperti itu. Namun karena memang dasarnya aku kurang bisa bergaul dengan mereka yang umurnya berada di atasku, ya tak ada yang bisa amat dekat dan akrab denganku. Tapi tak apa, karena waktu itu pun aku banyak dikenal oleh mereka, hhehe… 
Singkat cerita, kita sama-sama mengikuti tes masuk dalam kepengurusan Rohis. Ketika itu aku bingung memilih antara 2 departemen, dakwah atau tim kreatif. Saat itu aku memilih dakwah, dan banyak diantara kalian yang juga memilih dakwah. Namun ntah bagaimana ceritanya, aku malah dimasukkan ke tim kreatif, aku yakin kalian masih ingat saat itu. Dengan ketua yang baru, kita pun masuk dalam kepengurusan baru. Dari sinilah kawan, dari sini kita semakin saling mengenal.
Saat itu kita masih belajar. Belajar berorganisasi, dan berdakwah di sekolah. Misi ku tercapai. Akhirnya kini aku bebas memberi banyak ilmu kepada teman-teman kita. Aku merasa terwadahi dan bersyukur luar biasa bisa berada di tengah-tengah kalian. Ukhuwah yang erat, kekeluargaan yang luar biasa, bersama mbak-mbak yang kita sayangi, belajar, termotivasi, dan mendapat ilmu yang luar biasa dari mereka.
Aku ingat sekali, kita amat bersemangat ketika syuro, terkadang suasana begitu tegang saat semuanya mentok hingga aku tak berani bersuara. Terkadang tawa terselip diantara nego-nego kita, bahkan kadang ada tangis tertahan disana. Aku juga masih ingat, saat ketua Rohis kita marah karena kita terlalu banyak bercanda dan malah tidur-tiduran di lantai Masjid sekolah yang memang dingin itu. Hijab digedor-gedor supaya kita diam, hhaha… Lucu jika mengingatnya lagi. Namun ukhuwah yang begitu erat tak pernah mematahkan semangat kita untuk terus berjalan dan berlari di jalan ini, kita tetap bersemangat, Allahuakbar!!
Setahun bersama dengan mereka, mbak-mbak dan mas-mas yang luar biasa membuat kita takut kehilangan mereka, betul nggak? Ketika masa kepengurusan semakin berakhir, kita was-was dan bingung bagaimana meneruskannya. Tangis selalu hadir saat kita sharing bersama mereka, rasanya kita masih belum siap atas kepergian mereka, namun semangat yang terus mereka berikan memberikan kekuatan tersendiri untuk kita, dan ana khususnya (:P). Ada satu misi yang ana tetapkan saat itu, aku tidak ingin mengecewakan kepercayaan mereka.
Dan akhirnya saat itu pun tiba juga. Saat dimana kita harus menggantikan posisi mereka. Saat itu aku berharap waktu bisa diulang sehingga tak perlu ada pergantian pengurus. Tangis tertahan dalam hatiku, mungkin kau juga sama. Hingga diumumkan, kitalah pengurus inti yang baru. Aku, yang tak pernah mengira bisa terpilih ternyata diamanahi sebagai wakil ketua umum, atau “ketua” untuk bagian akhwat. Kau juga pasti ingat, saat itu gerimis turun deras dari mataku. Bingung, harus sedih atau senang atas amanah ini. Tapi sekali lagi aku azzamkan dalam diri, aku tak ingin mengecewakan mereka.
Dari sini perjuangan kita semakin berat. Ya kan? Dulu kita masih bisa santai karena masih ada kakak kelas yang membimbing kita. Namun kali ini, kitalah yang menjadi kakak kelas bagi adik-adik baru kita kelas X. Hhaha… Tertawa lagi aku jika ingat saat pertama kali kita syuro dalam kepengurusan kita. Aku masih kaku dan kita semua masih terlihat kaku dan sangat hati-hati. kita sering cekikikan sendiri di balik hijab syuro, ntah apa yang kita tertawakan, tapi aku suka ketika kita cekikikan bersama.
Lambat laun, ukhuwah yang terjalin semakin erat dalam diriku. Ntah kau merasakannya atau tidak, tapi beberapa diantara kita sudah seperti tak terpisahkan. Tantangan dakwah semakin berat kita rasa, namun kita tetap memperjuaangkan ukhuwah ini meski telah banyak yang memutuskan talinya. Aku mulai merasa ada ikatan baru antara kita dan adik-adik kelas kita. Kadang kita jengkel dengan tingkah mereka yang begitu kekanak-kanakan, padahal kita sedang pusing memikirkan dakwah yang semakin rumit saja. Syuro-syuro yang kita lakukan sering terjadi konflik dan keributan, hhehe… Sang ketua lebih sering marah ketimbang sebelumnya. Tapi aku menikmati saat-saat itu.
Kau pun pasti ingat saat beberapa kali air mata tertumpah ketika musyawarah. Aku selalu tertawa jika mengenang saat-saat itu. Adik-adik kelas kita jadi sering mengejekku (mungkin bukan ngejek tapi an nganggepnya ngejek, hhehe…) karena tangisanku kemarin. Haah… Malu juga kalo’ diinget lagi, namun inilah yang membuatnya indah.
Sempat kita beradu argumen mengenai banyak hal. Kita sering tak sepaham dan kadang berbeda dalam memutuskan dan mengambil jalan keluar, tapi ntah mengapa, kita tak pernah berhenti sampai disitu saja.
Kadang kita pun menjadi gila. Berlaku aneh dan berpose seenaknya di depan kamera. Narsis, tak malu sama adik-adik kelas yang terkadang memperhatikan tingkah aneh kita. Kebodohan yang kalian dan aku buat terkadang membuatku malu juga, haha… Namun lagi-lagi, semua inilah yang membuat perjuangan ini berwarna.
Terkadang ketika aku melihat adik-adik kelas kita, aku jadi teringat kita yang dulu. Mungkin mereka merasakan hal yang sama seperti kita dulu. Merasa takut jika tak mampu meneruskan perjuangan ini. Namun aku melihat sesuatu yang berbeda pada mereka, mereka lebih siap, dan aku yakin mereka akan mampu berjuang lebih baik daripada kita.
Kawan, mungkin tak cukup satu buku tebal untuk mengenang setiap perjuangan yang telah kita lakukan bersama. Saat pahit, sulit, seram, mengancam, rasanya telah semua kita rasakan bersama. Banyak yang mengeluh, jatuh, terantuk, terinjak, terempas, namun kau dan aku yakin bahwa kemudahanNya suatu saat pasti datang.
Kemarahan yang pernah kita rasakan, kepenatan yang terkadang membuat diri tak tahan, semua karena demi perjuangan yang tak kan tersia. Dakwah ini telah menjadi bagian dari hidup kita sekarang, dan kini, meski kita telah lepas dari segala amanah yang diberikan, dakwah ini tak kan berhenti, perjuangan ini akan terus berlanjut hingga nafas tak lagi ada.
Kawan, disinilah kita memulai semuanya, di sekolah inilah kita mengawali perjuangan yang luar biasa. Kini kau adalah bagian dari hidupku yang tak akan terlupa, kau dan segala memori dalam diri tak akan hilang begitu saja dari hatiku. Jika aku boleh berharap, aku tak ingin berpisah dengan kalian dan segala kenangan indah ini. Namun hidup harus berlanjut, dan tak mungkin angan akan tercapai jika terus disini, ya nggak?
Perjuangan kita belum selesai kawan, ada tantangan lebih berat menunggu kita ditempat lain di belahan bumi ini. Namun memori ini, akan selalu kuingat dan kubawa kemanapun ku melangkah nantinya. Uhibbukum fillah, I’ll never forget U galz, Luph U full…
Teruntuk semua sahabat ana, para pengemban dakwah sejati,.
Uhibbukumfillah…


0 komentar:
Posting Komentar
So??
Apa pendapat Anda?