Jika mendengar kata “aneh”, apa yang langsung terfikir di benak antum semua?
Apakah tingkah laku yang tidak wajar? wajah yang tidak seperti orang kebanyakan? Tangannya panjang sebelah? Punya ekor? Telinganya panjang? Atau matanya ijo?(mata duitan dong, hhehe…) Apakah yang seperti itu yang menurut anda aneh? Kebanyakan pasti menjawab YA.
Banyak orang yang mendefinisikan aneh, adalah suatu ketidakwajaran yang terjadi, baik pada manusia, hewan, ataupun alam berdasarkan penglihatannya. Sedikit saja ada yang tidak wajar, sudah heboh sana sini, mengabarkan tentang terjadinya keanehan. Ada bayi yang telinganya membentuk lafaz Allah, dibilang aneh. Manusia yang tingginya lebih dari 2 meter, dibilang aneh. Sapi bisa terbang(hhehehe…) dibilang aneh. Lho? Emang bener kan mereka aneh?
Tidak kawan, mereka tidaklah aneh, mereka hanya “istimewa”, karena berbeda dalam fisik dan pandangan kita. Trus, aneh yang bagaimana dong yang diomongin?
Yang kita bahas adalah aneh yang seperti Rasulullah…
Lho? Emang Rasul aneh???
Kawan, dalam sebuah hadits disebutkan,
“Sesungguhnya bermula datangnya Islam dianggap asing (aneh) dan akan datang kembali asing…”
Rasulullah, pada awal kenabiannya benar-benar terasing dan dianggap aneh. Jika kita baca di shirah nabawiyah pastilah kita akan menemukan berbagai penghinaan yang diberikan orang-orang zaman itu kepada Rasulullah SAW. Terbayang ketika Rasulullah dianggap aneh karena menyalahkan adat dan kebiasaan buruk yang terjadi pada masa itu, ketika ia menyatakan bahwa yang seharusnya disembah bukanlah latta, uzza dan manna, namun Allah SWT. Beliau terasingkan dan dianggap sangat aneh.
Ingat pula ketika ia menyampaikan kebenaran, tak banyak yang mau mendengarkan. Ia semakin terasingkan, bahkan pamannya pun memusuhinya. Beliau bahkan dilempari kotoran unta ketika beribadah, tidak ada yang membelanya kecuali Fathimah, anaknya. Ketika olokan dan cemoohan ditujukan kepadanya, ia sangat bersabar dan terus berjuang menegakkan kebenaran Islam. Subhanallah…
Bayangkan pula ketika beliau ditinggal oleh istrinya tercinta, Khadijah, serta pamannya Abu Thalib. Beliau kembali merasakan kesendirian seperti pada masa kecilnya dulu, hanya bersama kakeknya. Sungguh luar biasa Rasulullah SAW, ditengah keterasingannya, ia tak hentinya bergerak dan terus menyampaikan kebenaran Islam. Menjadi pembawa kebenaran, pembela keadilan (beneran lho..), pembebas dan pembeda. Menghilangkan segala bentuk perbudakan dan diskriminasi dengan Islam yang mulia. Subhanallah…
Bagaimana jika hal itu terjadi pada kita? Bagaimana jika kita yang dianggap asing dan aneh? Beranikah kita? Sekali lagi, mari kita lihat hadits diatas,
“Sesungguhnya bermula datangnya Islam dianggap asing (aneh) dan akan datang kembali asing…”
Coba kita rasakan saat ini kawan, semakin tahun, semakin modern nya kehidupan, semakin banyak hal yang bertentangan dengan Islam. Mulai dari pergaulan, cara berpakaian, pemikiran, pokoknya semua yang berkaitan dengan gaya hidup sudah mulai kebablasan. Maksiat sudah nggak malu-malu lagi. Free seks, pesek(hhehe… nggak ding) dan homoseks sudah menjadi sesuatu yang legal. Pakaian belom jadi malah jadi trend. Paha dan betis diumbar kemana-mana. Pokoknya udah banyak yang nggak Islami justru menjadi sesuatu mode tersendiri yang bangga untuk dilakukan. Kejahiliyahan sudah mulai menjamah bumi ini. Islam, sedikit banyak mulai dianggap asing dan aneh lagi.
Lihatlah sekeliling, orang-orang yang menjauhkan diri dari kemaksiatan dianggap kuno dan aneh. Ketika ada yang mengatakan “pacaran itu haram”, malah dianggap berlebihan dan terlalu fanatik. Ketika ada yang mengajak untuk mendirikan sholat sunnah, mengajak berpuasa sunnah, justru dianggap sok alim. Saat beberapa orang tidak mau berkorupsi dan ingin bersikap jujur, eh, malah dianggap sok suci dan bodoh oleh rekan-rekannya. Ya, ketika kedzaliman telah menjadi tradisi, begini jadinya. Dan Islam, lambat laun akan semakin dianggap aneh.
Sekarang, pandanglah diri kita masing-masing. Apa yang kita lakukan ketika melihat kemaksiatan dihadapan kita? Apakah melarang atau justru ikut-ikutan? Takutkah dianggap kuno hingga mengikuti arus pergaulan bebas? Takutkah dikucilkan teman hingga tak menghiraukan suara azan?
Ketika rekan kita sibuk mengumpulkan harta dengan cara yang tidak halal, mencontek mati-matian untuk mendapatkan nilai yang besar, apakah kita ikut juga? Ataukah kita menjauh dari semua itu dan mengikuti jejak Rasul?
Saudaraku, beranikah kita yang saat ini berada ditengah krisis akhlak ini menjadi berbeda dan dikucilkan? Berani nggak, menjadi orang yang dianggap aneh dengan terus melaksanakan sunnah dan ajaran Islam secara kaffah? Berani nggak, menjauhkan diri dari segala kemaksiatan?
Jika kau ingin menjadi salah satu orang yang berbahagia dan beruntung, maka jadilah orang yang asing dan aneh. Aneh karena menjunjung tinggi nilai Islam, dan terkucilkan dari teman-teman yang zhalim dan pembuat kerusakan..
“…Namun berbahagialah orang-orang asing (aneh) itu. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw, "Ya Rasulullah, apa yang dimaksud orang asing (aneh) itu?" Lalu Rasulullah menjawab, "Orang yang melakukan kebaikan-kebaikan di saat orang-orang melakukan pengrusakan." (HR. Muslim)”
Ya, berbahagialah orang-orang asing itu,ialah orang-orang yang melakukan kebaikan-kebaikan, ketika orang lain melakukan pengrusakan.
Orang-orang aneh, merekalah Al-Ghuraba, manusia yang rindu akan perbaikan, manusia yang menjunjung tinggi nilai Islam, manusia pembeda, yang meninginkan indahnya kepribadian manusia. Ketika kerusakan moral dianggap sebagai modernisasi, mereka maju menunjukkan bahwa moral yang baiklah modernisasi itu. Ketika kecurangan dan maksiat dijadikan budaya, mereka dengan lantang berkata bahwa itu bukan budaya kita!
Di tengah-tengah perlombaan menumpuk harta kekayaan, sungguh orang yang mempertahankan kesederhanaannya karena hendak memelihara kebersihan dirinya, maka sering ia dianggap aneh oleh orang sekitarnya. Bahagia benar orang-orang yang aneh seperti itu. Subhanallaah.
Kawan, jika tiba masanya nanti Islam benar-benar dianggap asing dan aneh, jangan takut untuk menjadi bagian keanehan itu. Jika nanti kau tak temukan lagi jilbab panjang terulur, maka ulurkanlah ia dari kepala hingga dadamu. Jika nanti kau lihat masjid-masjid sepi dan sunyi, ramaikanlah bersama keluarga dan sahabatmu. Jika nanti orang-orang menatap sinis dan aneh kepadamu karena teguhnya imanmu, maka balas tatapan mereka dengan senyum indah mengembang dari bibrmu. Islam pada mulanya asing, dan akan kembali dianggap asing. Jadilah orang asing itu kawan, jadilah Al-Ghuraba!
Rasulullah pernah berkata :
”Mereka mengisi apa yang hilang; mereka melengkapi apa yang ganjil; mereka memenuhi apa yang kosong.”
Rasul pun pernah bersabda,
“Mereka menghidupkan kembali sunnahku setelah sunnahku dimatikan oleh manusia”
Al-Ghuraba, ialah manusia-manusia sholeh yang berada di tengah-tengah manusia yang durhaka kepada Allah. Yang menghidupkan sunnah rasul, yang menginginkan perbaikan, mengajak kepada kebaikan.
So, kawan, apakah ente nggak pengen menjadi Al-Ghuraba? Apakah nggak ingin menjadi orang-orang aneh? Wallahua’lam bi showab

7 komentar:
Assalamu'alaykum.. Memang benar, orang baik itu aneh, orang brengsek itulah suatu kejujuran tanpa cela seakan menjadi pembenaran. Izin copy ya artikel-nya?
Wa'alaikumussalam..
diizinkan..
:D
Assalammualaikum warrahmatullahi wabbarokatuh....saya suka dengan artikel2 mbak Nanda.....izin copas ya.....untuk mengingatkan diri saya sendiri agar selalu istiqomah dalam ibadah untuk menggapai pahala dan ridhlo Allah SWT....amien
Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh...
Tafadhol, monggo mas Didik, dienakin aja ngopy nya, kalau mau nambah boleh juga kok, hhehe...
An senang sekali kalau tulisan ana bisa bermanfaat untuk orang lain :)
Jazakallah khoir...
:D
Assalamualaikum, wah ketemu juga yang sebelumnya ana di dengar di khotbah jumat.
Izin Copy ya mbakyu>>
Assalammualaikum warrahmatullahi wabarakatuh ..sangat mencerahkan,,,
izin share,,
:D
Assalamualaykum wr wb...
Materi yang sangat bagus :)
izin copas ya artikelnya..
semoga bermanfaat bagi semua :)
Posting Komentar
So??
Apa pendapat Anda?