Assalamu’alaikum sobat dan sobit sekalian(hhehe…) Ana yakin antum semua pernah menasehati dan dinasehati, btul nggak? Pasti betul. Sebagai manusia, yang merupakan makhluk sosial tentunya kita pasti memerlukan orang lain. Ntah dalam belajar, bergaul, berdagang, pokoknya dalam seluruh kegiatan pasti kita butuh orang lain. Nggak percaya deh kalo’ ada yang bilang nggak butuh orang lain dan bisa mengerjakan semuanya sendiri. Orang seperti itu mah namanya sombong bin angkuh. Individual bahasa kerennya(emang keren? :P) bagaimanapun pasti ada saat dimana kita membutuhkan manusia selain diri kita. Bayangin aja kalo semuanya dikerjain sendiri, mau makan, mesti nggemburin tanah sendiri, nanem sendiri, manen sendiri, masak sendiri (hiks sedihnya) kebayang nggak? Lho, saya beli sendiri kok dipasar. Ngotot banget ya, beli kan juga butuh petani yang nanem dan penjual yang menjualkan, ya tho? Hadeu, jadi lari kemana-mana nih. Pokoknya, kita tidak akan lepas dari peran orang lain, salah satunya dengan meminta nasehat ketika kita dalam kesulitan atau keterpurukan.
Kalo’ minta nasehat sih gampang-gampang aja, ya nggak? Tinggal dateng, ato SMS, curhat ini itu, trus minta nasehat, dikasih, beres. Hhehe… Nha, yang jadi masalah ni kalo’ kita yang dimintain nasehat ama temen kita. Atawa kitanya yang ngasih nasehat duluan sebelum diminta (ke PD-an banget ya, hikikik…), atau menebarkan kata-kata nasehat ke teman-teman kita via SMS, mail, atau lewat blog seperti saya (gedubrak!), hhehe… Bisa nggak mempertanggungjawabkan nasehat yang kita berikan? (nah lho…)
Kalo’ minta nasehat sih gampang-gampang aja, ya nggak? Tinggal dateng, ato SMS, curhat ini itu, trus minta nasehat, dikasih, beres. Hhehe… Nha, yang jadi masalah ni kalo’ kita yang dimintain nasehat ama temen kita. Atawa kitanya yang ngasih nasehat duluan sebelum diminta (ke PD-an banget ya, hikikik…), atau menebarkan kata-kata nasehat ke teman-teman kita via SMS, mail, atau lewat blog seperti saya (gedubrak!), hhehe… Bisa nggak mempertanggungjawabkan nasehat yang kita berikan? (nah lho…)
Memang, memberikan nasehat kepada sesama muslim adalah hak sebagai muslim yang mesti kita penuhi. Seperti dalam sebuah hadits berikut.
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Hak seorang muslim terhadap sesama muslim ada enam, yaitu bila engkau berjumpa dengannya ucapkanlah salam; bila ia memanggilmu penuhilah; bila dia meminta nasehat kepadamu nasehatilah; bila dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah bacalah yarhamukallah (artinya = semoga Allah memberikan rahmat kepadamu); bila dia sakit jenguklah; dan bila dia meninggal dunia hantarkanlah (jenazahnya)". Riwayat Muslim.
Mungkin mudah saja bagi kita memberikan nasehat, menyuruhnya ini itu, bersabar terhadap situasi yang menimpanya, memberikannya semangat, dan lain sebagainya. Namun sekali, lagi, mampukah kita mempertanggungjawabkannya? Mampukah kita melaksanakan dan merealisasikan nasehat yang sudah terlanjur kita berikan itu? Mampukah kita ketika kita diuji atas nasehat yang kita berikan?
Pernah suatu hari, di tempat yang nun jauh disana(hhehehe…), ana diuji oleh Allah dalam suatu hal. Sempet ana down, bahkan hampir putus asa dalam menghadapinya. Habis-habisan ana ngadu ke Allah, minta dikuatkan dalam menghadapi ujian yang Ia berikan. Lama ana merenung dalam doa ana, namun belum mendapatkan jawaban. Kemudian ana berinisiatif untuk menghubungi salah satu teman yang sering ana mintai pendapat, ya… curhat sedikit lah, hhehe… Tak beberapa lama setelah ana minta nasehat kepadanya, ia mengirimkan sebuah SMS berisi kata mutiara. Setelah ana baca, ana kaget luar biasa dan merasa malu yang maluuuu banget! Bukan karena apa-apa, tapi karena kata mutiara yang ia kirimkan adalah kata mutiara buatan ana yang dulu pernah ana kirimkan kepadanya. Hahaha… Kali itu ana merasa, bahwa ana tak lebih baik darinya.
Pernah ngalamin yang kayak begitu nggak? Mungkin kejadian seperti ntu pernah juga anda alami. Ternyata apa yang pernah kita sampaikan dan berikan kepada orang lain sering datang kembali dan meminta pertanggungjawaban kepada kita. Nasehat dan wejangan yang kita berikan kepada orang lain, mungkin suatu saat akan dibutuhkan oleh kita sendiri sebagai penyampainya dahulu. Terkadang kita lupa, lalai, dan khilaf, sehingga diri kita lupa bahwa dahulu kita pernah mengeluarkan sahabat kita yang terjatuh dalam sebuah lubang. Dan karena kelupaan itulah saat ini kita terjatuh dan masuk ke dalam lubang yang dimasuki teman kita itu. Terkadang pula, Allah sengaja memasukkan kita ke dalam masalah yang sama, ke dalam lubang yang sama, untuk menguji keteguhan hati kita dan keistiqomahan kita dalam hal tersebut.
Pernah, setelah beberapa hari ana menulis dan mem-posting-kan sebuah artikel di blog ini, ana merasa Allah menguji ana. Ana merasa bahwa Allah meminta pertanggungjawaban kepada ana atas apa yang telah ana sampaikan. Ada sedikit rasa cemas dalam diri ana ketika itu. Mampukah ana berkonsisten dengan apa yang sudah ana sampaikan ke orang lain? Terlepas postingan itu ada yang baca atau tidak, tapi tetep, ana merasa berkewajiban untuk mampu melaksanakannya juga ketika itu. Alhamdulillah, ana masih mampu berkonsisten.
Tak jarang juga, ketika selesai memberikan materi atau kultum tentang suatu hal, beberapa hari kemudian ana diuji dalam hal itu. Atau teman ana meminta nasehat untuk menyelesaikan masalahnya, tak lama ana pun diuji dalam masalah yang sama. Keistiqomahan lisan ini, dan keteguhan hati ini sering diuji oleh-Nya, namun ana bersyukur atas itu semua.
Kawan, memang yang namanya lisan sulit sekali pertanggungjawabannya. Bukan hanya nasehat yang kita berikan, namun setiap kata yang keluar dari lisan kita menuntut pertanggungjawaban dari kita nantinya. Nuntutnya juga nggak kenal waktu, bisa kapanpun ia mau. Bisa jadi, baru satu detik kita mingkem, kita sudah dimintai pertanggungjawabannya, langsung diuji kekonsistenan kita. Atau, sudah bertahun-tahun baru diminta. Dan tak menutup kemungkinan, pertanggungjawaban itu baru diminta ketika nafas sudah tak berembus lagi dari hidung kita. Nah lho… Malaikatlah yang meminta ketika saat itu tiba.
Trus gimana dong? Apa kita diem aja kalo’ dimintain pendapat? Ya nggak juga, karena kan tadi juga udah ana kasih salah satu hadits yang menyebutkan kalo’ kita dimintai nasehat, ya kita wajib memberikannya. Yang perlu kita tekankan saat ini adalah, bahwa setiap untaian nasehat yang kita berikan kepada orang lain yang memintanya (ataupun nggak minta, hehe…) harus benar-benar kita amalkan juga dalam kehidupan kita, dan benar-benar kita jaga keistiqomahan diri kita. Jangan hanya bisa menasehati tanpa bisa berbuat hal yang sama. Jangan hanya mampu memberi solusi, tapi diri sendiri tidak terjaga. Jadilah orang yang mampu menasehati, tak hanya untuk orang lain tetapi juga untuk diri sendiri.
Jika kita merasa belum bisa member solusi atau nasehat karena kita tahu kita pun belum mampu menyelesaikannya, maka jangan sok menjadi orang paling pintar dan menasehati tanpa tahu kemampuan diri. Katakan apa yang kau mampu lakukan dan jangan katakan jika kau belum mampu merealisasikannya.
Sekali lagi, setiap apa yang kita keluarkan dari lisan kita, kita harus bersiap-siap mempertanggungjawabkannya. Nasehat yang kita berikan, nantinya akan menjadi ujian tersendiri bagi kita. Apakah kita konsisten dan istiqomah terhadap apa yang kita katakan atau tidak? Allah menguji kita karena Allah ingin tahu, seberapa bisakah kita merealisasikan apa yang sudah kita ucapkan. Seberapa siapkah kita mempertanggungjawabkan perkataan kita? Ketika kita mampu menolong teman kita yang masuk ke dalam sebuah lubang, mampukah kita menolong dirikita sendiri jika memasuki lubang yang sama?
Allah menguji kita, untuk mengetahui tingkat keistiqomahan kita, dan menguatkan kita atas apa yang telah kita berikan kepada orang lain. Kita harus siap diuji atas semua yang kita katakan dan lakukan. Ketika nasehatmu menjadikanmu diuji oleh Allah SWT, maka itu berarti Allah ingin kau menjadi lebih tangguh dari engkau yang sebelumnya. Ketika nasehatmu menjadi ujian untukmu, maka itu berarti Allah menyayangimu dan menginginkanmu naik ke tingkatan iman yang lebih tinggi. Sulit memang beristiqomah di jalan ini, namun kita masih bisa mengusahakannya semaksimal mungkin kan?
Wallahua’lam bi showab, semoga kita termasuk orang-orang yang mampu beristiqomah dan berkonsisten atas ucapan kita. Amin…

0 komentar:
Posting Komentar
So??
Apa pendapat Anda?